Cerita Dewasa IGO Termewah Diobok-Obok Tante Liar

 

Cerita Dewasa IGO Termewah Diobok-Obok Tante Liar – Usiaku yang makin beranjak dewasa membuat aku ingi mengerti dan memahami apa yang berhubungan dengan Sex. Rasa penasaranku sangat tinggi hingga aku sering menonton film porno. Namaku Andik, Usiaku saat ini 19 tahun, Usiaku yang sekarang ini adalah Usia dimana seorang laki-laki mengerti apa yang dimaksud dengan berhubungan Sex.

Novel Seks – Aku suka menonton film porno cewek-cewek asia, sampai tante-tante asia, sungguh sangat membuatku sangat tegang, ditambah lagi aku menonton dengan mengumpat-umpat ketika tanteku pergi kepasar atau kemana aja yang pntg tanteku sedang tidak dirumah. Tanteku ini mempunyai 2 orang anak yang sudah kuliah semua, dan semuanya pada ngekos, sekarang tinggal aku dan tanteku yang dirumah saja. Cerita Sex Terbaru

Nama tanteku ini adalah Tante Widia, Usianya sudah lumayan tua, sekitar 40 tahunan, tapi yang aku lihat bodinya masih sangat ketat meskipun agak sedikit gemuk. Kebiasaanku menonton film porno berimbas pada tanteku yang setiap dirumah selalu menggunakan pakaian yang sangat seksi sekali. Sering aku melihat tante hanya menggunakan daster minim yang hanya diatas lutut, kadang juga hanya menggunakan tengtop dan celana kulot yang sangat ketat.

Setiap aku habis menonton film orno, aku langsung mencari dimana tanteku berada hanya untuk memandang tubuhnya yang sangat seksi itu, hingga terkadang aku tak kuasa menahan nafsuku lantas aku menuju kamar mandi untuk mengocok kontolku sendiri. Seperti it uterus yang aku alami, pernah juga aku melubangi kamar mandi hanya untuk mengintip tanteku kalau sedang mandi sambil aku mengocok kontolku. Cerita Sex Tante

Malam itu hujan turun sangat deras sekali, membuat birahiku meningkat untuk menonton film porno, aku lantas keluar kamar dan memastikan apakah tanteku sudah tidur apa belum. Tapi apa yang aku lihat sungguh belum pernah aku melihatnya. Malam itu aku melihat tante Widia mengocok memeknya sendiri sambil mengerang-erang seperti film porno.

Aku melihat tante Widia dari celah jendela kamarnya, kulihat tante Widia sangat menikmatinya. Mungkin memek tante sudah gatal karena gak pernah disentuh oleh laki-laki karena suaminya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Sambil mengintip tante Widia mengocok memeknya, aku juga langsung mengeluarkan kontolku dari Boxer dan juga langsung ikut mengocok kontolku sendiri, karena terbawa suasana itu. Cerita Sex ABG

Setelah kurang lebih 20 menit tante Widia mengocok memeknya, aku melihat tante Widia mengerang sangat kencang dan aku lihat tubuhnya bergetar dan keluarlah sebuah cairan dari memek tante Widia. Keluaran sperma Tante yang pertama menyemprot jauh, dan sampai beberapa kali lagi menyemprot aku lihat.

Sungguh hujan lebat membuat suasana semakin mendukung, aku berniat untuk langsung masuk ke kamar tante Widia tapi aku masih belum mempunyai keberanian. Aku hanya meneruskan mengocok kontolku sendiri sampai akhirnya aku keluar dan aku kembali kekamar untuk tidur sambil membayangkan adegan tante Widia tadi.
Keesokan harinya pagi sekali tante Widia mendodok kamarku untuk membangunkanku. Setelahaku bangun dan membuka pintu kamarku, dalam sekejap mataku yang masih ngantuk menjadi langsung bentir terbuka lebar.

Aku lihat pemandangan yang sangat heboh sekali, aku melihat tante Widia menggunakan baju tidurnya yang sangat menerawang, sehingga terlihat jelas payudaranya dan putingnya yang coklat. Tante Widia juga memakai celana dalam merah yang membuatnya kelihatan sangat erotis, dalam sekejap pun kontolku langsung menjadi tegang. Kemudian tante Widia dengan perkataannya mengagetkan lamunanku. Cerita Sex Sedarah

“Andik, bantuin Tante dong!”

Tanpa bicara aku membantunya. Sprei, kelambu, baju, t-shirt, dan ..ih, pakaian dalam.

“Bawa ke mana, Tante?”

“Sekalian ke dalam aja!”

Tante Widia berjalan di depanku. Menaiki tangga hingga lantai dua. Aku cukup puas menikmati irama pinggulnya yang kukira agak dibuat-buat. Saat menghadap ke arah terang, siluet tubuhnya jelas membayang. Seakan telanjang. Kami masuk ke rumahnya. Tante Widia menggeletakkan jemuran di sudut kamarnya, akupun mengikutinya.

“Makasih ya? Kamu mau minum apa, Ka?” tanyanya yang langsung menghentikan maksudku untuk langsung pulang.

“Apa aja deh, Tante. Asal anget.”

“Tante nggak kemana-mana?”

“Mau kemana, paling cuma di rumah saja.”

“Eh, kamu nggak ada keperluan lain, kan?”

“Nggak, Tante,” jawabku. Mau apa aku di rumah, sendirian, di tengah hujan yang semakin lebat begini.

“Temenin Tante ya. Ngobrol.”

Kamipun terlibat dalam obrolan yang biasa saja. Sekedar ingin tahu kehidupan masing masing. Dari ucapannya, kutahu bahwa suaminya bernama Om Iwan. Jarang pulang. Yang cukup membuat darahku berdesir agak cepat adalah daster itu.

Seakan aku bisa melihat dua titik di dadanya, yang timbul tenggelam ketika kami bercengkrama. Tangan Tante Widia cukup atraktif. Entah sengaja atau tidak sering menyentuh tanganku, atau mampir di pahaku. Makin lama duduknya pun semakin dekat.

Hingga..”Andik, mau nonton film nggak? Tante punya film bagus nih.”

Wah untunglah, rumahku tidak mempunyai VCD player. Tante Widia menyalakan TV lalu memasang film. Dan, astaga ternyata dia benar tidak memakai BH dan celana dalam. Aku bisa melihatnya jelas karena dia cukup lama berdiri menyamping, cahaya TV membuat gaun tidurnya menjadi selaput transparan. Bentuk payudara beserta putingnya beserta rambut di pangkal paha. Cerita Sex HOT

Aku lebih ternganga lagi karena film itu XX. Kembali Tante Widia duduk di sampingku, malahan lebih dekat lagi. Tangannya mengusap-usap lenganku dengan lembut. “Filmnya bagus ya?” Bisiknya pelan.

Namun terdengar di telingaku bagaikan rayuan. Aku tak mampu menjawab karena bibir bawahku menahan ekstasi yang kuat. Entah apa yang harus kulakukan kini. Mataku tak lepas dari wanita yang merintih di film itu, yang sudah distel suaranya pelan.

Tante Widia menggenggam pergelangan tanganku. Dan, astaga. Dibawanya tanganku ke payudaranya. Didiktenya tangan ini ke daerah yang tak pernah diraAndikn sebelumnya. Begitu pula tangan kiriku. Kini masing-masing telapak tangan itu memegang rata masing-masing pasangannya, payudara.

Pandanganku masih ke arah TV. Aku tak berani menatap wajah Tante Widia.. Tak pernah aku impikan hal ini terjadi. Sementara di TV desahan si gadis yang menghadapi dua batang kontol makin membuat hot suasana.

“Andik, hadap sini dong,” ujarnya manja.

Kuhadapkan wajahku. Kulihat tatapan pengharapan di sana. Wajah Tante Widia cukup cantik, dengan kulit putih dan senyuman manis yang menghiasinya. Aku masih memegang payudara itu, hanya memegang dengan daster yang melapisinya. Ah, tak terasa daster itu. Hanya payudara besar ini fokus pikiranku. Tanganku masih canggung, sementara ada sesuatu yang mulai menggeliat di bawah sana. Cerita Mesum HOT

Tiba-tiba dia menghentikanku, dengan cara yang sempurna. Tangannya merengkuhku dalam pelukan, sementara bibirnya mencium lembut. Payudaranya menghimpit dadaku. Membuat dadaku berdetak hingga aku merasa bisa mendengarnya.

Ciumannya nikmat. Beda sekali sekali dengan apa yang ada di TV. Seakan ingin mengaliri dengan hangat jiwanya. Kami berciuman lama sekali, tak terasa tanganku ikut mendekapnya makin erat. Kulepaskan dekapanku untuk mulai mengontrol diri kembali. Berakhirlah sesi ciuman itu.

“Kenapa Andik? Kamu marah ya?” tanyanya pelan.

Tapi sialan, suara-suara di TV itu kembali mengacaukanku. Melumpuhkanku lagi dalam birahi.

“Maafin Tante ya? Tante..” Wajah itu mengeluarkan prana iba untuk dikasihi.

Dia kembali menciumku, cukup hangat. Namun tak sehangat tadi kurasa. Akupun tak mengharap ciuman kasih sayang, karena dariku juga tinggal nafsu. Ciuman-ciuman itu pindah ke leher dan telinga. Ah, tak pernah kubayangkan bahwa daerah ini lebih membuatku bergidik. Akupun menirunya. Kami saling menciumi leher, bahkan Tante Widia sempat mencium keras.

“Aduh, Tante..”

Dia lalu tersenyum dan berdiri. Perlahan dia melepas daster itu, mulai dari tangannya. Satu demi satu tangan daster itu terlepas. Daster melorot, tertahan sebentar di bulatan payudaranya yang besar. Dia menarik ke bawah lagi daster itu. Terlihat payudara, tanpa BH. Putih, bulat, besar, dengan puting susu berwarna merah muda. Mulutku menganga kagum seakan ingin memakannya. Aku menelan ludah.

Diturunkannya lagi. Aku menikmati satu persatu sajian pemandangan itu. Perutnya putih dengan pinggang yang ramping. Pusarnya menjadi penghias di sana. Daster itu tertahan di pinggangnya. Oh, pantatnya menahan.

Aku semakin berdebar, ingin mempercepat proses itu, aku ingin segera melihat kemaluannya. Diturunkan lagi, dan ah.. memek itu muncul juga. Dihiasi rambut berbentuk segitiga yang tak begitu lebat. Bibir memeknya merah segar, sedikit basah. Untuk pertama kalinya aku melihat wanita bugil. Dengan senyumnya, bangga membuatku tergakum-kagum.

“Sekarang, kamu juga buka ya?” perintahnya manja.

Aku membuka tshirtku. Tante Widia membuka celanaku, Lepas jinsku, tapi Tante Widia tak segera membukanya. Dia jongkok lalu menjilati kontolku dari luar celana dalam. Tampak noda basah sperma yang makin ditambah oleh air ludah.

Kontol itu makin membesar dalam celana dalam, rasanya tak enak kerena tertahan. Segera kubuka dan ..hup keluarlah batang kemaluan diikuti dua bolanya. Tante Widia mengecupnya, si kontol tampak membesar. Semakin tegaknya kontol diikuti dengan jilatan-jilatan lidah. Uff, enak sekali.

Kini gantian tangannya yang bekerja. Pertama dirabanya semua bagian kontol, lalu mulai mengocoknya. Setelah kira-kira telah utuh bentuknya, tegak dan besar, dWidiaukkannya ke dalam mulut. Tante Widia memandang ke atas, wajahnya berseri-seri .

“Teruskan Tante.” Lidah Tante Widia menjilat-jilat, kadang menggelitik kontolku. Lalu mulai memaju mundurkan mulutnya, seakan sebuah memek menyetubuhi kontol. Ini hebat sekali. Sekitar 15 menit permainan itu berlangsung, hingga “Tante, saya mau ke-luar..” kataku terengah-engah. Cerita Ngentot Tante

Tante Widia malah mempercepat kocokan mulutnya. Aku ikut memegang kepalanya. Dan keluarlah ia. Aku merasa ada 5 semprotan kencang. Tante Widia tidak melepasnya, ia menelannya. Bahkan terus mengocok hingga habis spermanya. Lega rasanya tapi lemas badanku. Tante Widia berdiri, kemudian kami berciuman lagi.

“Sekarang gantian ya..” pinta tante Widia

Kini aku menghadapi payudara siap saji. Pertama kuraba-raba dengan kedua tanganku. Remasan itu kubuat

berirama. Lalu aku mulai berkonsentrasi pada puting susu. Kutarik-tarik hingga payudaranya terbawa dan kulepaskan. Hmm, bagaimana rasanya ya? Aku mulai menjilatinya.

Enak. Jilatanku pada satu payudara sementara tangan yang lain meremas satunya. Ketika kuhisap-hisap putingnya, terasa makin mancung, mengeras, dan tebal puting itu. Kulakukan pula pada payudara satunya. Oh, ternyata jika wanita terangsang, yang ereksi adalah puting susunya. Kira-kira 5 menit aku melakukannya dengan nikmat.

Kemudian jilatanku turun, hingga memeknya. Kucoba dengan jilatan-jilatan. Kusibakkan lagi rambut kemaluannya agar jilatan lebih sempurna. Ada seperti daging kecil yang menyembul. Yang kutahu, itu adalah klitoris. Kuhisap seperti menghisap puting susu, eh Tante Widia merintih.

“Hmm, Andik, jangan dihisap. Geli. Tante nggak kuat.” Dan Tente Widia benar-benar lunglai. Tubuhnya rebah ke sofa. Dia terlentang dengan paha mengangkang memperlihatkan memek terbuka dan payudara yang berputing tegak. photomemek.com Aku lanjutkan lagi kegiatan ini. Makin lama kemaluannya makin basah. Jilatan dan hisapanku makin bersemangat, sementara di sana Tante meremas-remas payudaranya sendiri menahan ektasi.

Tiba-tiba pahanya mendekap kepalaku dan ..serr seperti ada aliran lendir dari memeknya. Otot liang itu berkontraksi. Inikah orgasme, hebat sekali, dan aku melihatnya dari dekat. Tak kusia-siakan lendir yang mengalir, kuhisap dan kutelan. Rasanya lebih enak dari sperma.

Tubuh Tante Widia yang bergoyang-goyang akhirnya tenang kembali. Jepitan pahanya mulai melemah namun kontolku mulai ereksi lagi. Kucium mesra memeknya seperti aku mencium bibirnya. Tante Iya tersenyum. Bibirnya berkata “Terima kasih,” namun tak mengeluarkan suara.

Gambar di film itu merangsang kami. Wanita berpayudara besar terlentang diatas meja kantor. Diatasnya laki-laki dengan kontol panjang dan besar menyetubuhi payudaranya. Tangan si wanita menekan payudaranya sendiri agar merapat, dan kontol itu melewati celahnya. Kupikir pasti asyik sekali. Aku menjilati dulu payudara Tante Widia, agar basah dan lengket. Tak lupa dengan hisapan-hisapan di putingnya.

Setelah merasa cukup, aku duduk di muka payudara itu. Tante Widia merapatkan celah payudaranya. Dia tersenyum senang. Aku mulai dengan pelan memasuki celah payudara, seakan itu adalah liang memek. Uff, sensasinya luar biasa. Aku mulai memaju mundurkan kontol dengan irama. Ujung kontolku terlihat saat aku maju. Kalau klimaks, pasti spermanya sampai ke wajah Tante. Tanganku ikut memegang payudara untuk menguatkan hujaman kontol.

Kadang aku menarik-narik puting susu. Aku mencium bibirnya, mengangkat paha di lehernya, kemudian menyerahkan lagi kontolku. Dihisap dan jilat lagi, seperti tak puas saja. Posisiku duduk tak enak. Aku tak bisa duduk karena akan menekan lehernya, tangankupun tak bisa memaju mundurkan kepalanya. Oh, ada sandaran tangan. Empuk lagi. Apalagi kalau bukan payudara. Sambil aku meremas-remasnya, kontol seperti diremas-remas juga.

Tante Widia mengeluarkan kemaluanku sebentar, mengajak posisi 69. Hm, kupikir boleh juga. Maka aku berganti posisi lagi. Tubuhku menghadap Tante Widia, tapi saling berlawanan. Kontolku di mulutnya, memeknya di mulutku.

Sampai beberapa saat kami melakukan itu. Aku tak tahu apakah Tante mendapat orgasme lagi, tapi dia sempat diam mengulum kontolku, pahanya menekan rapat kepalaku, tapi tak ada cairan yang keluar.

“Andik, berhenti dulu deh.” serunya.

Padahal aku sedang asyik dengan posisi ini. Tante Widia berdiri menuju ke dapur. Rupanya dia minum air dingin. Tante Widia datang. Membawa dua gelas air es dan menyodorkan dua tablet yang kuduga obat kuat. Kami meminumnya satu-satu. Tante memperhatikanku lalu melihat film itu. “Kita bercumbu beneran, yuk,” ajaknya. “Di bathtub yuk.”

Dia memegang kemaluanku seperti memegang tanganku, untuk mengajak dengan menggandeng kontol itu. Kami ke kamar mandinya. Bathtub-nya cukup besar, Kami mulai lagi. Di bawah shower itu berpelukan sambil meraba dan menyabuni.

Nikmat sekali menyabuni payudaranya, senikmat disabuni kontolku. Tak ada yang terlewatkan, termasuk memek dan anus. Ketika air mulai penuh, kami berendam. Airnya tak diberi busa. Nyaman sekali. Lalu kami mulai saling merangsang, meninggikan tensi kembali. Tante Widia mengocok kontolku dalam air, sementara aku meraba-raba memeknya.

Tak berapa lama dia duduk di pinggiran bathtub. Kelihatannya dia ingin memeknya dijilat. Aku merangkak menjilatinya. Cairannya mulai keluar lagi. “Pakai tangan juga dong,” pintanya lanjut. Aku menuruti saja. Kukocok dengan telunjuk kananku.

Kucoba telunjuk dan jari tengah, semakin asyik. Tangan kiriku mengusap klitorisnya. Tante memejamkan matanya menahan nikmatnya. Sebelum berlanjut lebih jauh, Tante menghentikan. Membalik badannya menjadi menungging dan membuka pantatnya. Ternyata dari tadi aku belum mengeksplorasi daerah anus. Akupun mencobanya.

Kujilat anusnya, reaksi Tante mendukung. Kujilat-jilat lagi, dari anus hingga memek. Lalu kocoba masukkan dua jariku lagi ke memeknya dan mengocoknya. Lidahku menjilat-jilat lagi. Daerah pantat yang menggembung berdaging kenyal seperti payudara. Akupun suka. Tante Widia menunjukkan reaksi seperti akan orgasme lagi. Desahannya mulai keras.

“Andik, Tante mau keluar lagi nih. Cepat! Pakai kontolmu. Ayo masukin kontolmu. Cumbu Tante, Andik,” jeritnya tertahan putus-putus.

Astaga Membuat aku makin terangsang. Aku siapkan kontolku, walau agak bingung karena tak ada pengalaman. Tante Widia mengocok memeknya sendiri sambil menungguku memasukkan kontol. Kontol sudah kuarahkan ke memek.

“Tante, nggak bisa masuk, nih,” tanyaku bingung.

“Tekan saja yang kuat. Tapi pelan-pelan.”

Aku ikuti sarannya, tetap saja susah. Dasar pemula. Jadinya kontolku hanya merangsang mulut memek saja, menggosok klitoris, tapi itu malah membuat Tante makin terangsang.

“Ayo masukkan, Tante sudah hampir keluar,”

Dengan tenaga penuh aku coba lagi. Dan, berhasil. Kepala kontolku bisa masuk walau sempit sekali. Tante Widia bergoyang untuk meraAndikn gesekan karena klimaksnya semakin dekat. Ketika aku coba masukkan lebih dalam lanjut pantat Tante bergoyang hebat.

Otot memeknya seperti meremas-remas. Kontolku yang walau baru kepalanya saja menikmati remasan memek ini. Dan Tantepun orgasme. Setelah itu dia jatuh dan berbaring dalam bathtub. Aku sudah melepaskan kontolku.

“Tante, maafin saya ya,” kataku agak menyesal.

Aku belum memasukkan seluruh kontolku dalam memeknya saat dia orgasme.

“Nggak apa-apa. Kepala kontolnya sudah nikmat, koq. Ayo kita coba lagi. Sekarang kontol kamu mau dikulum, nggak?” Tak usah bertanya. Ganti aku yang duduk di tepi bathtub”.

Tante merangkak dan mengulum kontolku. Ah, pose seperti ini membuat aku nyaman, seakan aku yang punya kuasa. Di ujung tubuh yang merangkak itu ada pantat. Wah, empuknya seperti payudara. Akupun menjamah dan meremas-remasnya. Kadang aku membandingkan dengan satu tangan tetap meremas pantat, tangan yang lain meremas payudara. Kenikmatan ganda. Kelihatannya Tante juga menikmati sekali.

Ombak berdebur kecil di bathtub itu. KuraAndikn kontolku mulai megeluarkan tanda akan klimaks. Tumben cukup lama sekali aku bertahan. Mungkin karena obat yang diberikan Tante. Kuhentikan gerakan Tante, kuanggukkan kepalaku ke wajahnya yang masih mengulum kontolku. Tante berdiri, aku mengikutinya.

Tante membuka memeknya, aku mengarahkan kontolku. Kugosok-gosokkan ke memeknya. Kutemukan klitosinya. Seperti puting susu, kumasukkan klitoris itu ke dalam lubang kontolku. Rangsangannya kuat, sampai-sampai Tante mau jatuh lagi seperti ketika klitorisnya kuhisap kuat-kuat. Ok, sekarang aku mulai memasukkan kontolku.

Tante Widia menggenggam kontolku, mengarahkan agar bisa masuk. Aku seperti orang bodoh yang harus diajari untuk melakukan gerakan yang kupikir semua laki-laki juga bisa. Ternyata tidak mudah. Dengan susah payah akhirnya kepala kontolku masuk.

Seperti tadi, kucoba goyang maju mundur untuk membuatnya siap melanjutkan misinya. Suasana begitu sepi, mungkin sudah malam. Tapi hujan masih menetes satu-satu. Sunyi. Saat itu, tiba-tiba ada ketukan di pintu rumah.

Tok..tok..tok.. Dan kami diam seperti hendak dipotret saja, “Widia..Widia, ini aku. bukain pintu dong..”, teriak seorang laki-laki. Kami bagai tersambar geledek, mematung dalam badai. Hujan tadi berlanjut menjadi badai akibat suara itu.

“Mas Hadi..”, bisik Tante Widia pelan. Kontolku langsung lemas, keluar begitu saja dari memek yang telah susah payah berusaha dijebolnya.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Aku akan berpura-pura..”

“Kalau aku?”

“Sembunyi saja.” “Dimana?” Kata-kata kami meluncur cepat nyaris tak bersuara. Kami berusaha berfikir.
Agak sulit, karena sedari tadi hanya menggunakan nafsu.

“Widia, kamu tidur ya? Bukain dong,” suara Om Hadi seakan detik-detik bom waktu yang siap meledak.
Wajah Tante Widia sedikit cerah.

“Aku ada akal..”

“Gimana?” tanyaku tak sabar.

“Kamu di sini saja dulu. Jangan keluar sebelum kupanggil.”

Tante Widia merendam lagi dirinya dalam bathtub, kemudian keluar. Aku menutup pintu kamar mandi, tidak terlalu rapat agar bisa melihat keadaan. Kulihat Tante Widia membawa pakaianku dan menengelamkannya dalam tumpukan jemurannya.

Mengelap lagi sofa dengan dasternya, melemparkan daster itu ke tumpukan jemuran. Kemudian membuka pintu. Apa yang dilakukannya? Dia sudah gila? Aku bisa mati jika kekasihnya tahu kami telah berbuat. Belum sih, tapi hampir menyetubuhinya.

Aku terus diam sendiri dengan rasa ketakutan yang menyelimuti perasaanku. Setelah tak lama berselang akhirnya tante Widia masuk lagi dan langsug menuju kekamar madi, entah alasan apa yang tante pakai untuk membohongi kekasihnya.

Setelah tante masuk dalam kamar mandi lagi “Santai aja Gil, sudah aman, aku sudah membohongi Hadi” ujar tante Widia. Kemudian kami melanjutkan persetubuhan yang sempat terhenti tadi, kontolku yang sudah lemas karena ketakutan langsung dipegang oleh tante Widia dan tante Widia pun langsung mengulumnya.

Tak butuh waktu yang lama kontolku sudah kembali berdiri kencang lagi, dan tanpa menunggu lama lagi tante Widia langsung mendudukan aku di closed duduk dan langsung memasukkan memeknya ke dalam kontolku. “Bleeeeeessssss” kontolku kembali tenggelam didalam memek tante Widia. Dengan ganasnya tante Widia terus menggoyang-goyangkan pantatnya baik maju mundur maupun naik turun.

10 menit tante Widia diatas sekarang aku meminta tante Widia agar berdiri, kemudian aku mengarahkan tubuh tante Widia untuk sedikit menunduk dan berpegangan pada closet duduk. Langsung saja aku hantamkan kontolku yang sudah tak tahan lagi,

“Bleeeeeessss” masuk sudah semuanya. Erangan demi erangan terus keluar dari mulut tante Widia.

“Ploook….Ploooook…..Plooook….” suara benturan tubuhku dan tubuh tante Widia disertai dengan desahan tante Widia yang semakin mengeras.

Semakin lama semakin aku percepat memompa tante Widia dari belakang, makin lama aku makin tak kuasa menahannya dan akhirnya setelah 15 menit aku memompa tante Widia dari belakang akhirnya aku merasakan ada yang mau keluar, tubuhku serasa melayang, darahku mendesir sampai ujung kepala dan

“Aaaaahhhh….Tanteeeee….Akuuuuu…Mauuuu…Keeeellllll….Keluaaaarrrr….” desahku panjang dan semakin cepat aku menyodok tante Widia. Bacaan sex top:

Kemudian tante Widia langsung melepaskan memeknya dari kontolku dan jongkok didepanku dan langsung mengulum kontolku dengan sangat cepat sekali dan akhirnya

“Crooooottt…Crooot..Crooott…Crroooott…Crooot…Croooottt” pejuhku menyemprot muka tante Widia, ada sebagian pejuhku yang masuk ke dalam mulut tante Widia. Setelah semua pejuhku habis, tante Widia lantas mengulum lagi kontolku, membersihkan sisa-sisa pejuhku yang masih nempel di kontolku.

Dalam guyuran hujan yang terus semakin lebat malam itu, akhirnya aku mandi air hangat bersama Tante Widia dan akhirnya malam itu aku tidur dengan tante Widia dengan telanjang.

Setelah kejadian malam itu, aku sudahmengerti dan aku sudah berpengalaman tentang hubungan Sex, bagaimana cara memuaskan seorang wanita. Sejak saat itulah aku selalu menjadi pemuas nafsu Sex tante Widia setiap saat dan setiap malam jika tante Widia menginginkannya. -,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts