cerita sex gay; SEBUAH PERJALANAN

cerita sex gay; SEBUAH PERJALANAN

Ada rasa lega usai aku menghapus akun ADI di BBM-ku.

Kadang kita memang harus tegas dalam menyikapi permasalahan kehidupan sehari-hari. Kalau mengandalkan perasaan, kita akan diombang-ambingkan oleh perasaan itu sendiri.

Mungkin aku terlalu emosional.

Tak apa. Sebagai pria dewasa, kita memang mudah emosional. Maunya cepet beres. Maunya nggak bertele-tele. Maunya yang ringkas dan akas. Bisa jadi sifat itu yang membuatku mendapat beberapa jabatan di kantor.

Aku segera berbenah, menyiapkan perlengkapan yang akan ku bawa ke Jogya. Sesuai rencana, aku tetap akan pergi. Tiket sudah aku pesan by Alfamart. Aku cuma bawa dua kaos saja. Toh aku cuma sehari saja di sana.

“Trus lapo kowe nang kono, Cung?” tanya emak.

“Ya pergi saja, mak”

“Ada teman di sana?”

“Banyak, mak. Jangan kuatir, saya nggak neko-neko kog”

“Iyo, ati-ati, saiki akeh wong lanang nggak genah”

Hih. Emak langsung menyebut banyak lelaki tak baik. Aku diam. Emak pasti tahu, aku pergi menemui lelaki, bukan perempuan. Kupeluk emakku. Emak selalu begitu. Meski tak pernah menuduhku sebagai gay, aku yakin emak tahu lakon hidup apa yang sedang kujalani ini. Emak pasti tahu betapa aku jatuh bangun mencari lelaki yang bisa melipur laraku.

Mak, kamu emak terhebat di dunia.

Jangan kuatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Insya Allah, aku tahu mana lelaki bajingan dan mana lelaki yang patut dipertahankan. Doakan saja aku selamat sampai tujuan ya mak.

**

Di Stasiun Gubeng ternyata kereta yang menuju ke Yogya sudah siap. Pukul 17.00 pas, kereta Bima mulai melaju meninggalkan kota Surabaya.

Perasaanku kacau. Bingung. Entah apa yang sedang kulakukan, aku sendiri tak tahu. Yang kutahu, aku harus pergi. Itu saja. Soal uang, alhamdulillah, semua dana THR sudah masuk ke rekening. Jadi tak ada masalah dengan keuanganku. Yang ada hanya masalah hati. Hatiku seperti diudak-udak.

Entah apa karena masalah si ADI atau masalah lain.

Di pojok kursi aku mulai mencari posisi yang enak. Kulihat di depanku sepasang suami istri berumur lanjut nampak duduk dengan tenang. Tak ada banyak percakapan yang mereka lakukan. Namun sentuhan-sentuhan ringan sang istri pada suaminya yang mulai menua, membuat hatiku hancur.

Betapa bahagia lelaki tua itu.

Amalan apa yang dia lakukan sehingga menemukan pasangan hidup yang begitu penuh kasih. Ibu itu memang tidak cantik, namun cara dia melayani suaminya dengan penuh kelembutan membuatku iri. Cara dia memandang raut wajah suaminya itu membuatku menemukan contoh yang benar tentang mencintai.

Aku mencari tissu.

Air mataku mulai menetes. Sayangnya yang ada hanya handuk kecil. Kupakai untuk menutupi mataku yang mulai banjir air mata. Tuhan memang tak adil. Kenapa dia mempertontonkan sebuah pemandangan yang membuat hatiku hancur!!

Kenapa tidak semua orang KAU jadikan sperti ini? Kenapa ada pernikahan yang harus berakhir dengan perceraian? putri77.com Kenapa ada yang ditinggalkan karena kematian? Kenapa ada yang ditimpakan sifat gay, yang jelas-jelas tak bakal bisa mencapai kesempurnaan cinta seperti yang terlihat di depanku ini?

Kenapa Tuhaaaan …

Dadaku bergemuruh. Tangisku memang tak terdengar. Tapi air mataku membanjir seperti air bah di Aceh. Beruntung tak ada penumpang di sebelahku, sehingga aku leluasa menyembunyikan isak tangisku ini.

Aku mengucapkan istighfar.

Astaghfirullah … astaghfirulah hal adzim.
Ampuni aku ya Allah …
Ampuni aku …

Betapa tak bersyukurnya diriku ini. Betapa aku tak berterimakasih atas segala karunia yang telah diberikan Allah padaku. Secara pekerjaan, aku sudah punya pekerjaan tetap. Tahun ini bahkan aku memegang 4 jabatan yang membuat teman-teman seangkatan iri.

Tahun ini aku sudah sanggup membeli mobil, meski masih harus mencicil hingga lima tahun ke depan. Soal rumah, aku sudah punya meski (lagi-lagi) masih harus mencicil selama sepuluh tahun.

Apapun caranya, ini anugerah, bukan?

Soal kesehatan, aku juga harus banyak bersyukur. Aku masih diberi anugerah kesehatan yang prima. Banyak teman-temanku yang sudah pada meninggal. Ada yang kena diabetes aku, sakit jantung, kecelakaan kerja dan kena AIDS.

Ya Tuhan … betapa serakahnya aku dengan semua ini.

Jelas saja Allah tak bakal memberi apa saja keinginanku. DIA hanya memberi apa yang aku butuhkan. Bukan apa yang aku inginkan. Bisa jadi Tuhan tahu, aku tak butuh pasangan saat ini. Bisa jadi jika dia memberi aku pasangan, akan berakhir dengan buruk.

Bisa jadi.

BTW, aku harus jujur bahwa bahkan hingga hari ini aku tak pernah mengucapkan permintaan untuk punya pasangan (wanita). Yang kuminta malah pengen punya pasangan pria yang baik hati, jujur, perhatian dan punya pekerjaan tetap.

Dan Tuhan memang mengabulkan permohonanku itu. Banyak lelaki yang datang dan bercinta denganku. Cuma itu saja. Tak ada kelanjutan lagi, cos aku menilai bahwa mereka bukanlah lelaki yang kuinginkan.

You know, seks bukan lagi ukuran sakral buatku.

Aku tak bisa menjalin hubungan dengan cara seperti yang pria-wanita laukan. Melakukan pendekatan intens, lamaran, menikah dan melakukan seks.

Urutannya terbalik dalam rumus hidupku.

SEKS first, nyaman, dua-duanya setuju, baru akan kujalani hubungan percintaan. Tentang kebutuhan seks, harus aku akui aku memang agak hyper. Paling nggak seminggu 4 atau 5 kali harus bercinta.

Itu sebab aku menolak Long Distance Relation.

Bisa jadi yang sanggup bertahan dengan LDR adalah lelaki (gay) yang punya hasrat seksual rendah. Hah? Ada ya lelaki yang seperti itu? Ada. Banyak.

Jadi inget si Rendy, mantanku yang ke 158.

Dia masih muda, manis, tubuh atletis, pintar dan romantis. Hubungan kami sepertinya sempurna. Seminggu dua kali kami bertemu. Tapi sebulan berjalan, aku baru sadar, Rendy bukanlah pria penuh gelora.

Ada saja alasannya kalau diajak bercinta.

Yang habis diarelah. Yang nggak enak badanlah. Yang lagi setresslah. Yang lagi banyak urusanlah. Yang lagi banyak pekerjaan di kantorlah. Itu mah alasan!
Orang kantoran itu lho, apa sih pekerjaannya? Paling ngetik satu dua surat. Paling terima telpon dari customer. Paling ngecek surat-surat yang harus ditangani sang boss!

Jangan-jangan dia memang tak becus mengatur waktu.

Waktunya kerja dibuat BBM-an. Yang jelas bukan BBM-an sama aku. Karena aku sudah komitmen, tak akan membuka hapeku kala bekerja. Aku hanya membuka hapeku kalau jam makan siang atau jam istirahat.

Entahlah, akhirnya aku memutuskan hubungan kami.

Jadi sekali lagi aku jelaskan, berakhirnya hubungan itu bukan hanya pada satu pihak. Pasti kedua belah pihak sama sama punya andil yang sama membuat kesalahan.

Aku tertidur.

Kereta tetap melaju menuju ke Jogya. Sungguh nyaman perjalanan kali ini. Ada sedikit beban dalam dadaku yang hilang. Mungkin larut bersama tangisku tadi.

Ini yang kusuka dari sebuah perjalanan.

hey semuanya, salam kenal, buat kalian-kalian yang suka serial kisah sesama yang masih original seperti Cowok Rasa Apel yang sudah sampai sesi ke 3, silahkan cicipi “Serial Pelepasan” dengan jalinan kisah sesama lelaki dewasa dengan rasa yang berbeda, terimakasih banyak :),,,,,,,,,,,

Related posts