Derita Para Gadis Tawanan

Derita Para Gadis Tawanan

WARNING:

* Cerita-cerita ini memuat adegan pemerkosaan dengan unsur-unsur penyiksaan. Bagi yang kurang suka cerita panas dengan unsur sadisme/penyiksaan, mungkin bisa di-skip biar gak nyesel.
* Cerita-cerita ini asli karangan ane & belom pernah ane post di forum laen.
* Cerita-cerita ini hanya fiktif, kesamaan nama, tokoh, atau peristiwa adalah tidak disengaja.
* Thanks for reading!

Cerita mana yg jadi favorit agan2 sekalian? SIlakan comment di bawah supaya cerita berikutnya makin mantep gan!

Chapter 1. Cathlin dan Gadis-gadis Negeri Selatan

Cathlin berusia 17 tahun ketika perang saudara di negaranya terjadi. Akibat perang itu, negara tempat Cathlin tinggal dibagi menjadi Negeri Selatan dan Utara. Keluarga Cathlin tinggal di wilayah negeri Selatan. Seperti tipikal gadis negeri Selatan lainnya, Cathlin memiliki kulit yang putih mulus dan wajah yang cantik bersih. Tidak seperti tipikal penduduk negeri Utara yang kebanyakan berkulit gelap dan berparas sangar. Maklum, penduduk negeri Selatan didominasi oleh orang-orang kaya, tidak seperti negeri Utara yang penduduknya rata-rata miskin dan tidak berpendidikan. Kesenjangan tersebut yang menyebabkan perang antara kedua negeri tersebut seolah tiada akhir.

Cathlin bersekolah di sebuah SMA yang terletak di dekat perbatasan antara negeri Utara dan Selatan. SMA itu terkenal dengan siswi-siswinya yang cantik dan tajir. Mungkin karena alasan itulah, suatu siang sekelompok orang dari negeri Utara datang bergerombol menyerang sekolah itu. Cathlin sedang mendengarkan gurunya berbicara saat tiba2 ia mendengar suara gaduh dan bunyi tembakan dari luar kelasnya. Kemudian tiga pria bersenjata dengan pakaian tentara mendobrak masuk ke kelas Cathlin. Pria2 tersebut berbadan kekar dan berkulit hitam legam – tipikal pria dari negeri Utara.

“Yang cowok geser ke sebelah kiri, yang cewek geser ke sebelah kanan!” teriak salah satu dari tentara itu.

Setelah siswa laki2 dan perempuan dipisahkan, orang itu berteriak lagi, “Sekarang yang cewek buka semua pakaiannya!”

Siswi-siswi itu pun kaget dan terpaku, namun karena diancam dengan senjata, perlahan mereka melepaskan kancing bajunya satu per satu, dilanjutkan dengan memeloroti rok mereka masing-masing. Siswa-siswa di sisi lain kelas itu menonton dengan perasaan campur aduk – antara nafsu dan ketakutan.

“Gua bilang buka semuanya! Bukan cuma seragamnya!” ujar tentara itu, sambil menarik bra salah seorang siswi yang bernama Melody hingga terlepas. Tidak senang dengan perlakuan kasar itu, Melody meludah ke arah tentara itu. Sang tentara marah bukan main. Ia menyuruh dua orang rekannya untuk memegangi tangan Melody, sementara ia sendiri maju dan mencubit kedua puting susu Melody yang kini tidak tertutup bra.

“Berani-beraninya lo sama gua!” katanya, sambil mengeluarkan pisau dari sakunya.
“Ampun, Bang, jangannn!”
Tanpa belas kasihan, tentara itu mengiris puting susu Melody yang sebelah kanan hingga setengah sobek. Teriakan yang pilu terdengar dari mulut Melody yang cantik itu, diikutin dengan teriakan histeris dari gadis-gadis lainnya yang takut hal serupa menimpa mereka. Takut akan ancaman itu, gadis-gadis itu cepat-cepat melepaskan bra dan celana dalam mereka, hingga kini 13 gadis yang telanjang bulat berdiri ketakutan di sisi ruang kelas itu.

Gadis-gadis itu disuruh berdiri berjejeran layaknya barang dagangan yang sedang dipamerkan. Sang komandan dari tentara itu berjalan sambil mengamati gadis-gadis itu satu per satu, sambil kadang2 meraba2 payudara mereka dan mengelus wajah mereka. Kemudian, ia menunjuk lima orang gadis yang menurutnya paling cantik, lalu memisahkan mereka dari yang lainnya. Cathlin termasuk dalam lima orang itu, sedangkan Melody dipisahkan dari kelompok itu. “Teteknya udah rusak, buat apa lagi dia kita bawa,” kata sang komandan sambil mendorong Melody hingga jatuh ke lantai.

Para tentara mengikat tangan kelima gadis itu, kemudian mereka digiring keluar dari kelasnya hingga ke lapangan di luar gedung sekolah itu. Di situ terdapat sekitar 30 orang gadis berumur antara 15 hingga 18 tahun yang telah ditelanjangi, yang telah dipilih dari masing-masing kelas. Kira2 ada 20 orang tentara dari negeri Utara di tempat itu. Setelah semua tentara meninggalkan gedung itu, mereka lalu menyiram gedung itu dengan bensin, lalu membakarnya beserta dengan murid-murid dan guru yang tertinggal di dalamnya. Cathlin dan 29 orang gadis cantik lainnya lalu digiring meninggalkan tempat itu.

Karena rombongan itu dilengkapi dengan senjata yang lengkap, tidak ada penduduk negeri Selatan yang dapat menghalangi-halangi iring-iringan tersebut. Dalam waktu kurang dari lima menit, mereka sampai di perbatasan negeri Utara dan Selatan. Saat mereka memasuki wilayah negeri Utara, para penduduknya berjejer di pinggir jalan. photomemek.com Mata mereka terbelalak ketika melihat 30 orang gadis telanjang dalam keadaan terikat sedang berjalan di depan mereka. Pria-pria negeri Utara pun mengocok penis mereka sambil menikmati pemandangan itu, sementara yang lainnya berteriak-teriak “Dasar bangsa kafir! Orang2 sombong akan dapat ganjaran! Dasar pelacur!”

Mendengar hinaan-hinaan itu, Cathlin hanya bisa meneteskan air mata sambil terus berjalan dengan dipenuhi rasa malu yang luar biasa. Bagaimana tidak, ratusan pria yang tidak dikenalnya kini sedang menatap tubuhnya yang tidak tertutup sehelai benang pun. Untuk mempercepat langkah gadis2 itu, para tentara memukuli pantat dan punggung mereka dengan tongkat, sambil berteriak “Ayo cepetan, dasar pelacur malas!”

Perjalanan sejauh tiga kilometer itu terasa tiada akhirnya bagi Cathlin dan teman2nya, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gedung yang bentuknya mirip penjara yang tidak terawat. Setelah mereka masuk ke gedung itu, mereka digiring menyusuri lorong2 yang diapit sel-sel gelap dan kotor. Di dalam beberapa sel itu, Cathlin dapat melihat gadis-gadis negeri Selatan yang terkurung dalam keadaan telanjang bulat dan tubuhnya penuh dengan luka-luka. Ia pun merinding membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Mereka lalu dibawa masuk ke sebuah ruangan agak besar yang cukup untuk menampung sekitar 60 orang. Mereka ditinggalkan dalam ruangan itu sampai matahari terbenam.

” Cath, gue mau pulang,” ujar Jennifer, teman sekelas Cathlin, sambil meneteskan air mata.
“Semua juga mau pulang, Jen,” jawab Cathlin sambil berusaha untuk menenangkan temannya, walaupun ia sendiri dirundung rasa takut yang luar biasa.

Kira2 jam 9 malam, sang komandan masuk ke ruangan itu. “Saatnya kita pesta!” teriak sang komandan, diikutin dengan gerombolan pria yang berebutan masuk ke ruangan itu. Kira2 ada 100 pria negeri Utara yang masuk ke sana, semuanya berpenampilan sangar, lusuh, dan kotor, seolah belum pernah mandi selama sebulan terakhir.

Dua orang pria mendekati Cathlin dan melepaskan tangannya yang terikat. Dengan cepat mereka melepaskan pakaian mereka, lalu memperlihatkan penis mereka yang besar-besar ke wajah Cathlin.
“Belum pernah kan liat yang segede ini? Emangnya kayak punya orang Selatan, kecil2 semua!” Kata2 mereka terdengar samar karena tertutup dengan suara jerit histeris gadis-gadis yang sedang digerayangi beramai-ramai.

Kedua pria itu memposisikan tubuh Cathlin hingga menungging. Pantatnya yang motok kini menghadap ke atas, ditopang oleh kedua pahanya yang putih mulus. Layaknya orang kesetanan, salah satu pria itu langsung menghujamkan penisnya ke vagina Cathlin yang belum pernah dijamah lelaki itu.

“Arghhhhhhh sakittttt ampunn tolonggggg!” teriak Cathlin ketika penis besar itu masuk ke liang vaginanya yang masih sempit itu. Cathlin dapat mendengar rintihan serupa dari gadis-gadis lain yang baru saja direnggut keperawanannya. Maklum, para gadis negeri Selatan biasanya sangat menjaga keperawanan mereka hingga mereka menikah. Namun kini keperawanan yang mereka jaga dengan susah payah direnggut oleh musuh-musuh mereka.

Pria yang sedang memperkosa Cathlin menggerakan badannya dengan sangat cepat, sehingga Cathlin merasakan sakit yang luar biasa pada vaginanya yang belum sempat beradaptasi. Ruangan itu sangat gaduh, terdengar rintihan, isak tangis, jeritan minta tolong, dan suara pria-pria yang merancau “Perkosa cewek2 jalang! Hancurkan memeknya! Jangan berikan ampun buat bangsa kafir!”

Tiba2 Cathlin merasakan penis yang tadi ada di liang vaginanya kini telah keluar, namun ia belum merasakan pria tadi menyemprotkan spermanya. Ia hanya dapat merasakan darah perawannya mengalir menuruni kedua pahanya menuju ke lantai. Ternyata ada pria yang sedari tadi memegangi tubuh Cathlin agar tidak bergerak, meminta jatahnya. Kedua pria itu sepakat untuk memperkosa Cathlin bersamaan. Salah satu dari mereka lalu berbaring di lantai, sementara temannya memposisikan tubuh Cathlin di atas tubuh pria itu, sehingga vagina Cathlin tepat berada di atas penis pria itu. Ia lalu mendorong pantat Cathlin sehingga penis sepanjang 20 cm itu amblas masuk seluruhnya ke dalam vagina Cathlin yang beberapa menit lalu masih perawan, diikutin dengan jeritan Cathlin yang kesakitan. Belum berakhir di situ, pria yang satu lagi memisahkan kedua belah pantat Cathlin hingga lubang duburnya terlihat. Pria itu lalu menghujamkan penisnya yang sudah tegang sedari tadi ke liang dubur Cathlin, lalu menyodomi Cathlin secara brutal. Pria yang di bawah menikmati guncangan tubuh Cathlin yang dapat ia rasakan pada selangkangannya, sambil meremas2 payudara Cathlin yang tidak terlalu besar, namun padat dan sekal.

Sepuluh menit telah berlangsung, namun kedua pria itu masih tetap memperkosa Cathlin dengan brutal dalam posisi seperti itu. Kemudian seorang pria datang menghampiri Cathlin, dengan penis yang masih berlumuran sperma dan darah. Ternyata ia baru saja memperkosa Cindy, adik kelas Cathlin yang sedari tadi digarap di sebelah Cathlin. Pria itu lalu menyodorkan penisnya ke mulut Cathlin.
“Nikmatin nih sperma gue, campur sama darah perawan temen sebangsa lo nih!”
Ia lalu menyodokkan penisnya yang berukuran lebih dari 20 cm itu ke mulut Cathlin yang kecil, sehingga penis itu seolah masuk hingga ke kerongkongannya. Dengan kasar pria itu menyodok2 mulut Cathlin dengan penisnya, tanpa peduli dengan Cathlin yang terbatuk2 akibat tersedak. Belum cukup penderitaannya, dua orang pria lagi datang menghampiri Cathlin dan memaksanya untuk mengocok penis mereka dengan kedua tangannya yang halus. Kini lima orang pria sedang memperkosa tubuh Cathlin yang tidak berdaya. Setelah salah satu dari mereka selesai, datang pria lain untuk menggantikan posisi pria yang telah selesai, sementara pria itu mencari mangsa berikutnya.

Pada malam nahas itu kira2 15 orang pria memperkosa Cathlin secara bergantian maupun bersamaan. Hampir semua posisi seks mereka terapkan terhadap gadi tawanan itu. Mereka memperkosa setiap lubang di tubuh Cathlin. Bahkan ada yang menyodokkan penisnya ke celah di antara ketiak Cathlin, sementara lengannya menempel dengan badannya. Seluruh tubuh Cathlin dilumuri sperma, demikian juga dengan mulutnya yang telah menelan banyak sekali sperma dari bermacam2 pria. Rambutnya yang pendek dan halus itu dipakai untuk mengelap sisa2 sperma pada penis pria2 yang memperkosanya. Sebelum fajar tiba, Cathlin dan sebagain besar gadis2 tawanan lainnya tergeletak tak sadarkan diri akibat perkosaan brutal yang mereka terima dari 100 pria negeri Utara.

***

Selama berada di kamp tawanan itu, gadis2 negeri Selatan dipaksa untuk bekerja sepanjang hari di pabrik pembuatan senjata ilegal. Mereka dipaksa berdiri telanjang di sepanjang lini produksi senjata yang dibuat dengan tangan itu. Tidak hanya senjata, mereka juga dipaksa untuk membuat keperluan2 perang lainnya seperti seragam, makanan, dan lain-lain. Mereka diharuskan bekerja dalam kondisi telanjang bulat, sehingga para penjaga bisa melecehkan tubuh molek mereka kapan saja. Para penjaga seringkali meremas dan memukul pantat gadis2 itu dari belakang, atau kadang2 menarik2 puting susu mereka hingga mereka mengaduh kesakitan. Bahkan ada juga gadis2 yang disodomi dari belakang sembari mereka melanjutkan pekerjaannya. Karena bila mereka tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya, mereka akan dijebloskan ke dalam ruang penyiksaan, di mana mereka disiksa dengan cara-cara yang sangat kejam dan tidak manusiawi, beberapa gadis bahkan hingga menghembuskan napas terakhirnya di ruangan itu.

Pada malam harinya, mereka dipaksa untuk melayani nafsu bejat para tentara negeri Utara, atau pria-pria lainnya yang sengaja membayarkan sejumlah uang untuk memperkosa atau menyiksa gadis2 Selatan. Maklum, di negeri Utara jarang sekali terdapat wanita yang berparas cantik, sehingga mereka melampiaskan nafsu dan kebencian mereka kepada gadis2 tawanan itu.

***

Chapter 2. Pemerkosaan dan Penyiksaan Jennifer

Jennifer adalah teman sekelas Cathlin semenjak mereka masih duduk di bangku SMP. Ia dikenal sebagai gadis yang populer karena kecantikannya. Rambutnya yang bergelombang dicat dengan warna coklat tua. Matanya agak sipit namun terlihat sexy, ditambah dengan bibirnya yang mungil. Payudaranya jauh lebih besar bila dibandingkan dengan Cathlin, demikian juga dengan pantatnya yang putih mulus. Kecantikannya itu justru membawa bencana saat Jennifer berada di kamp tawanan itu. Ia seringkali menjadi pelampiasan nafsu para penjaga bejat di sana. Beberapa orang penjaga bahkan sengaja menjebak Jen supaya melakukan kesalahan, agar ia dapat dijebloskan ke dalam ruang penyiksaan.

Setelah tertangkap basah melalukan kesalahan dalam pekerjaannya merakit senjata, dua orang penjaga memborgol tangan Jen ke belakang dan menggiringnya ke ruang penyiksaan. Sesampainya di sana, Jen dibaringkan di sudut ruangan berukuran 4 x 4 meter itu, tangan Jen diposisikan di atas kepalanya dan diikatkan ke sebuah pipa. Penjaga yang satu lalu merentangkan kedua kaki Jen lebar-lebar, sehingga vaginanya yang mulus tanpa bulu itu terpampang jelas. Memang semua gadis Selatan di kamp itu diwajibkan mencukur habis rambut ketiak dan kemaluannya, mungkin demi kepuasan para penjaga dan tentara di sana. Setelah membuka celananya, pria itu lalu menghujamkan penisnya ke vagina Jen yang sudah puluhan kali dimasuki penis2 pria tidak dikenal. Jen berusaha menahan rintihannya, karena ia tahu kalau rintihan yang keluar dari mulutnya akan menjadi nyanyian yang merdu bagi pemerkosanya. Sementara vaginanya diperkosa secara brutal, pria yang satu lagi duduk di atas perut Jen, lalu memposisikan penisnya di antara kedua belah payudara Jen yang montok. Ia lalu mendempetkan kedua belah payudara Jen hingga menghimpit penisnya, lalu memain-mainkannya untuk memijit penisnya. Sesekali ia menampar payudara Jen keras2 untuk mendengar jerit kesakitan dari mulut Jen yang berusaha untuk diam tak bersuara. Kedua pria itu berejakulasi dalam waktu yang hampir bersamaan. Pria yang duduk di perut Jen yang rata itu lalu memeperkan sisa sperma pada penisnya ke kedua belah payudara Jen, sementara pria yang memperkosa vagina Jen memaksa Jen untuk membersihkan penisnya dengan lidahnya.
Setelah itu, mereka berdua meninggalkan Jen dalam posisi terikat di dalam ruang penyiksaan itu. Tidak lama kemudian, mereka masuk lagi sambil membawa kursi, tali, dan pecut. Mereka melepaskan ikatan Jen dari pipa di sudut ruangan, lalu menyuruh Jen untuk berlutut di atas kursi itu, sementara payudaranya berada tepat di atas sandaran kursi. Mereka mengikat kaki Jen ke dudukan kursi itu, sementara tangannya yang diborgol diikat ke sandaran kursi. Ikatan itu begitu kencang sehingga Jen sulit untuk bergerak. Dalam posisi seperti itu, pantat Jen yang bulat dan kenyal semakin terlihat menantang bagi para penjaga yang berdiri di depan kursi itu. Mereka lalu bergantian meremas kedua bongkahan pantat yang mulus itu, sambil sesekali menamparnya keras2 hingga meninggalkan bekas kemerahan. artikelbokep.com Mereka juga menciumi dan sesekali menggigit bulatan pantat Jen, seolah ingin melahapnya habis. Setelah puas, mereka lalu berdiri menjauhi Jen sambil mengambil pecut masing2. Jen yang sudah tahu apa yang akan terjadi hanya dapat memejamkan matanya dan berharap penderitaannya cepat berakhir. Dalam hatinya ia malah berharap ingin cepat mati saja daripada harus menjalankan hidup penuh siksaan seperti itu, namun ia teringat akan kedua orangtuanya yang tentunya masih mengharapkan putri tunggal mereka itu kembali ke rumahnya. Lamunan Jen buyar saat salah satu pecut itu mendarat di pantatnya yang sebelah kanan, diikuti dengan suara “ctarrr” yang memecah keheningan. Belum sempat Jen menjerit kesakitan akibat rasa panas di pantatnya itu, satu cambukan lagi mendarat di pantatnya yang sebelah kiri.

Cambukan demi cambukan terus mendarat di pantat, punggung, dan paha Jen, sehingga tubuh Jen yang putih mulus kini dihiasi dengan garis2 merah. Rintihan “Cukup.. Tolong hentikan, aku gak tahan lagi…. ampunnn” terus keluar dari mulut Jen, sambil matanya terus mengucurkan air mata akibat rasa sakit pada tubuhnya, ditambah dengan perasaan terhina diperlakukan seperti itu. Tentu saja permintaanya tidak digubris oleh kedua penjaga yang keasyikan menyiksa gadis yang tidak berdaya itu. Mereka memang sengaja diminta atasannya untuk senantiasa menyiksa gadis2 Selatan di kamp itu, untuk melampiaskan kebencian dan kecemburuan mereka terhadap bangsa Selatan yang kian lama kian maju dibandingkan bangsa Utara. Beberapa adegan pemerkosaan dan penyiksaan bahkan sengaja direkam untuk ditunjukkan ke orang-orang negeri Selatan, sebagai ancaman agar mereka menyerah dalam perang saudara.

Jen tidak menghitung berapa banyak cambukan yang mendarat di belakang tubuhnya, hingga akhirnya ia merasakan tidak ada lagi cambukan. Tiba2 Jen merasakan sebatang sendok yang dimasukkan ke dalam lubang duburnya. Salah satu penjaga mengorek2 liang dubur Jen dengan sendok itu secara kasar, sehingga menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan. Setelah beberapa lama, sendok itu dikeluarkan. Sendok itu berlumuran dengan kotoran dari lubang dubur Jen. Kemudian sendok itu didekatkan ke wajah Jen. “Cium nih aroma pup lo sendiri!” ejek para penjaga itu, sambil menyuapi mulut Jen dengan kotorannya sendiri. Belum pernah rasanya Jen merasa terhina seperti itu. Para penjaga lalu melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Jen, lalu menyuruhnya untuk duduk di atas kursi itu. Pantat Jen yang penuh luka terasa sakit ketika menyentuh permukaan kursi yang kasar itu. Kedua tangan Jen yang masih terborgol itu lalu diikat ke belakang sandaran kursi, demikian juga dengan kedua kakinya diikatkan ke kaki-kaki kursi. Jen yang masih kelelahan akibat siksaan yang ia terima bernapas tersengal2, sehingga payudaranya yang besar itu bergerak naik turun seirama dengan tarikan napasnya. Para penjaga itu lalu berebutan meremas2 payudara Jen, sambil sesekali menggigit puting susunya hingga seolah hampir lepas. Mereka juga menampari kedua payudara Jen yang bergantung dengan indahnya itu sehingga payudaranya seolah terlempar ke kanan dan ke kiri. Pipi Jen yang dipenuhi dengan air mata juga ditampari, sambil diejek “Dasar pelacur Selatan, bisanya cuma nangis doang!” Kemudian mereka mengambil pecutnya masing2 dan kembali mencambuki tubuh Jen, kali ini di bagian payudara dan perutnya yang melekuk indah. Teriakan demi teriakan terdengar dari ruang penyiksaan itu, hingga matahari terbenam dan Jen dilepaskan untuk kembali bekerja pada shift malam. Ashley, yang ditempatkan di sebelah Jen dalam lini produksi itu mengelus punggung Jen yang penuh luka bekas cambukkan itu, sambil membisikkan, “Sabar ya Jen, pasti penderitaan ini ada akhirnya. Suatu saat kita akan membalaskan perbuatan kejam mereka!”,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts