SUPIR PAPAKU

SUPIR PAPAKU

CERITA SEX GAY,,,,,,

Papaku baru saja menyewa seorang supir baru karena supir yang lama berhenti. Supir baru ini lebih muda, bernama Adi. Badannya masih tegap dan umurnya 28, empat tahun lebih tua dibanding saya. Adi dikenalkan oleh teman ayahku yang hendak pindah ke Singapur. Karena tak ingin Adi menganggur, maka ia merekomendasikan Adi pada ayahku. Rumah ayahku memang tidak besar, hanya kami berdua yang menempatinya. Adi menempati kamar supir lama. Dalam sekejab, kamar sempit itu disulapnya menjadi kamar yang sangat bernuansa maskulin. Bahkan aroma cologne murahannya tercium tajam di setiap sudut kamarnya.
Ayahku percaya sekali pada Adi meski masih pegawai baru. Namun, saya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang misterius sekali, seakan-akan dia menyembunyikan sesuatu. Untuk ukuran seorang supir, Adi memang melebihi standar. Wajahnya tampan dan terkesan tangguh. Kehidupan masa lalunya nampak sangat keras, tergambar jelas di wajahnya yang tampan itu. Kulitnya tidak terlalu gelap, menyelimuti tubuhnya yang tegap dan atletis. Sebagai seorang pria, saya diam-diam iri dengannya. Meskipun penampilan fisik Adi memang luar biasa, namun nasibnya tidak begitu bagus sebab dia terjebak di tangga karir sebagai seorang supir pribadi.
Tanpa ada yang tahu, saya sering mengintipnya mencuci mobil ayahku karena dia selalu melakukannya sambil bertelanjang dada. Ah, betapa saya ingin meremas dadanya itu. Tapi rasanya tak mungkin karena Adi terlihat sangat heteroseksual. Tak mungkin dia mau ngentotin saya. Sejak dulu, saya sudah sadar bahwa saya hanya tertarik pada pria, namun saya mencoba untuk menekan sifat homoseksual-ku. Jika ayahku tahu, dia pasti akan marah. Namun dengan kehadiran Adi, bebanku bertambah berat karena saya harus menekan nafsuku terhadapnya.
Pernah, di suatu malam, saya menyelinap kelaur rumah dan diam-diam bersembunyi di luar jendela kamar Adi. Dari balik jendela itu, kulihat Adi sedang berbaring di ranjang sambil bertelanjang bulat. Kontolnya ngaceng sekali seperti baja. Mulut Adi agak membuka, nampaknya dia sedang mendesah-desah akibat rangsangan yang dia berikan pada kontolnya sendiri. Tanpa ampun, kontolnya dikocok-kocok dengan kecepatan tinggi. Saya hanya bisa menelan ludah melihat dadanya yang sempurna dan juga kontolnya yang besar. Adi terlalu larut dalam lamunan joroknya sehingga dia tak menyadari keberadaanku.
Kudengar dia mengerang, “Oohh.. Hhoohh.. Oohh..”
Kontolnya berdenyut-denyut di tangannya. Sesekali, Adi meludahi kontolnya sebagai pelumas. Tidak tahan melihat adegan erotis itu, saya buru-buru mengeluarkan kontolku sendiri dan mulai sibuk mengocoknya. Napasku memburu-buru menyaksikan Adi membelai-belai dada bidangnya sendiri dengan penuh sensualitas. Ingin rasanya kupeluk tubuhnya yang atletis dan seksi itu.
“Aahh..” desahku saat kontolku mengeluarkan precum.
Sebutir cairan bening melepaskan dirinya dari lubang kontolku. Cairan itu langsung kuambil dengan jariku, lalu kujilat. Mm.. enak sekali. Udara malam yang dingin malah membuatku semakin terangsang. Setelah bermenit-menit mengocok, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Kulihat Adi mulai gelisah, tubuhnya bergetar dna mengencang. Seluruh ototnya berkontraksi seakan sednag menahan sesuatu. Wajah Adi yang ganteng sedikit menyeringai menahan nikmat yang teramat sangat. Dan lalu..
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Mataku hampir terbelalak saat kulihat pejuh putih kentalnya muncrat ke atas dan jatuh kembali mendarat di atas tubuhnya.
“Aarrgghh!! Hhoohh!! Oohh!! Uugghh!! Aahh!!” Adi terus-menerus mengerang dan mendesah.
Tubuhnya yang kekar atletis itu mengejang-ngejang seperti orang kesurupan. Kontol perkasa itu terus menembakkan pejuhnya selama beberapa kali sampai akhirnya berhenti sama sekali. Kulihat, tubuh Adi basah kuyup dengan pejuh bercampur keringat. Kolam pejuh sudah terbentuk di perutnya yang berkotak-kotak akibat ejakulasinya tadi. Tanpa rasa jijik, Adi meraup pejuhnya dengan tangannya dan kemudian mendekatkannya ke bibirnya.
Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan cairan kejantanannya menete ke dalam mulutnya. Adi menelan pejuhnya sendiri! Dan dia nampak sangat menyukainya. Saya tak sempat menyaksikan apa yang diperbuat Adi selanjutnya sebab orgasmeku sendiri hampir datang. Sambil menahan eranganku, saya membiarkan tubuhku dikejangkan oleh orgasmeku.
“Hhoohh!! Oohh!! Oohh!! Hhoohh!!” Pejuhku dimuntahkan ke atas rerumputan. Tubuhku tak berdaya, diguncnag orgasme dan saya harus berpegangan pada tembok jika saya tak mau terjatuh.
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Hampir selama semenit, saya mendesah dan mengejang. Rasanya nikmat sekali. Kubayangkan betapa nikmatnya berejakulasi dalam pelukan Adi. Oh, saya berharap mimpiku dapat terwujud suatu saat. Kemudian, saya buru-buru kembali masuk ke dalam rumah, dan kembali memerankan peranku sebagai pria heteroseksual. Setiap pagi, Adi bangun dan mencuci mobil, lalu mengantarkan ayahku ke kantor. Adi kemudian pulang lagi sampai sore dan lalu menjemput ayahku. Begitulah kegiatannya sehari-hari. Namun terkadang, saya merasa seolah-olah Adi juga sering menatapku secara diam-diam. Misteri dalam diri Adi semakin besar, hingga suatu ketika, saya mengetahui apa yang disembunyikannya selama ini..
Suatu pagi, saya kembali mengintipnya dari balik jendelaku. Jendela kamarku kebetulan menghadap keluar sehingga kapan pun Adi sedang sibuk mencuci mobil, saya pasti berkesempatan untuk mengintip tubuhnya. Pagi itu, entah kenapa, Adi hanya mengenakan celana dalamnya yang terlihat usang. Dengan santai, dia mencuci mobil ayahku. Tentu saja air terciprat dan membasahi celana dalamnya itu. Dalam sekejab mata, celana itu basah kuyup. Berhubung celana itu agak tipis, pantatnya yang padat itu tercetak dengan jelas. Kontolku langsung ngaceng. Birahiku menyala-nyala. Tak kuat membendung nafsuku, saya buru-buru melepas celanaku dan mengeluarkan kontolku.
“Aahh..” desahku melihat adegan erotis itu.
Adi nampak sengaja meliuk-liukkan pinggulnya, seakan menggodaku. Tiba-tiba, Adi membalikan tubuhnya. Tentu saja saya kaget setengah mati. Untung saja jendelaku diselimuti tirai sehingga tubuhku agak tersamar. Dari balik tirai, kusaksikan cetakan kontolnya di balik celana dalam basah itu.
“Aahh, besar sekali,” gumamku, penuh nafsu.
Kontolku sendiri mulai bocor dengan precum. Kuperas-peras batang kontolku dan semakin banyak precum yang keluar. Sambil ngocok, saya memata-matai gerak-gerik Adi. Sesekali kulihat Adi sengaja mengelus-ngelus kontolnya dari balik celananya.
“Oohh.. Hhoohh.. Hhoosshh..” Napasku makin berat dan tak beraturan.
Kubayangkan bagaimana nikmatnya bercinta dengan supir itu, merasakan tubuhnya, memegang kontolnya, dan dingentot. Semua bayangan-bayangan erotis itu, ditambah dengan live-show yang sedang digelar Adi di luar, memacu orgasme. Kontolku semakin ngaceng dan basah, namun saya tetap memerasnya sampai..
“Oohh.. Oohh.. Aarrgghh!!”
Kontolku berdenyut keras tiap kali pejuh dimuntahkan keluar. Tubuhku bergetar dan mengejang, seiring dengan gelombang orgasme yang kurasakan.
Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tirai tempat persembunyianku juga ikut bergerak, terkena tubuhku. Tanpa kusadari, tirai itu tersibak, dan Adi tak snegaja melihatnya. Dia menyaksikan bagaimana saya dikuasai orgasme.
“Aarggh!! Oohh!! HhoH!! Aahh!!” erangku, terus saja memerah kontolku.
Pejuhku bermuncratan ke atas lantai, menciptakan genangan pejuh.
“Oohh.. Hhohh.. Hhsshh..”
Dan semuanya kembali seperti semula. Kontolku mengempis, napasku kembali teratur, dan saya tersadar kembali. Saat kuintip Adi, ternyata supir itu sudah tidak ada dan mobil ayahku sudah bersih mengkilap. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Adi sedang merencanakan aksi pemerkosaan terhadapku! Siang itu setelah mengantarkan ayahku, Adi menghampiriku di dapur. Saya baru saja selesai makan siang dan hendak mencuci piring saat Adi tiba-tiba berdiri di belakangku.
Dengan sensual, ditempelkannya tubuhnya ke punggungku. Sebuah benjolan mendorong-dorong pantatku. Tentu saja saya jadi kaget tapi senang. Namun di lain pihak, saya takut kalau itu hanyalah jebakan saja. Bagaimana jika dia hanya ingin mengetesku saja? Maka kuputuskan untuk tetap memainkan peran sebagai seorang pria ‘straight’. Berpura-pura tersinggung, kudorong tubuhnya dengan punggungku.
“Kenapa sih, Bang Adi? Salah minum obat yach?”
Saat kubalikkan badanku, saya baru sadar bahwa Adi sudah bertelanjang dada. Pantas saja, saat dia menempelkan badannya ke punggungku, saya dapat merasakan dengan jelas setiap kontur dadanya yang berotot. Badan Adi yang atletis mengingatkanku pada badan Jason Brooks, cowok ganteng yang berperan sebagai Sean Monroe di Baywatch Hawaii. Puting Adi yang kecoklatan nampak menegang dan melenting, menjaga otot pektoralnya yang aduhai.
Di bawah dada bidang itu, nampak otot perut six-pack yang kotak-kotak seperti papan cuci. Rambut-rambut halus tumbuh menyebar di dada Adi, lalu turun ke belahan six-pack-nya, dan kemudian menghilang di balik celana panjang hitamnya. Untuk sejenak, saya terhanyut dalam lamunanku, membayangkan isi di balik celana itu. Keringat dingin mulai mengucur saat saya menyadari apa yang sedang Adi lakukan.
Dia sedang menggodaku! Dan celakanya, tak ada seorang pun di rumah selain Adi dan saya. ‘Astaga, jika Adi benar homoseksual, apakah dia akan memperkosaku,’ tanyaku panik pada diriku sendiri. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mau diperkosa, bahkan pria gay sekalipun, karena pemerkosaan berkonotasi negatif dan kasar. Namun entah kenapa, tiba-tiba saya terangsang sekali. Saya membayangkan diriku terbaring bugil tak berdaya di lantai sementara Adi mengentotinku dengan kasar. Kontolku mulai tegang dan tercetak di balik celanaku. Saya sama sekali tak menyadarinya, namun Adi sadar dan telah melihatnya!
“Tenang saja, gue gak bakal nyakitin loe. Gue cuma mau bersenang-senang saja, kok,” kilahnya.

Kedua matanya bersinar penuh nafsu. Saya tidak tahu setan apa yang sedang merasukinya. Mataku bergerak turun dan kulihat sebuah tonjolan besar menghias celana panjangnya. Sebagai seorang pria, saya tahu benar bahwa sekali nafsu hinggap dalam diri seorang pria, pria itu pasti akan melakukan apa pun untuk memuaskan nafsunya itu. Tanpa malu, Adi meraih benjolan celananya dan sibuk mengurutnya.
“Loe mau nyoba kontol gue?” “Omong apa sih loe?” tanyaku, berusaha terdengar galak.
Tapi nampaknya tak berhasil sebab suara yang keluar malah suara yang gemetaran.
“Gak usah pura-pura deh. Loe homo juga kan?” kata Adi lagi, mendekat.
Tangannya yang satu lagi dipakainya untuk meremas-remas dadanya yang bidang.
“Loe suka badan gue? Ngaku aja.. Gue tau, loe suka ngintipin badan gue tiap pagi saat gue lagi cuci mobil Papa loe. Tadi pagi, gue liat loe sedang coli dan berorgasme hanya dengan mengintip badan gue.”
Saya mulai bingung, apakah saya harus mengakui homoseksualitasku padanya. Di tengah kebingunganku, Adi menyambung.
“Kebetulan, nih. Gue lagi horny. Ayo, temenin gue di ranjang.”
Dengan tangannya yang kuat, Adi memelintir tanganku ke belakang. Saya kontan mengaduh kesakitan. Saya tak berdaya saat Adi menyeretku masuk ke kamarnya. Dengan kasar, Adi membanting tubuhku ke ranjangnya. Aroma tubuhnya yang jantan, bercampur dengan aroma parfum murahannya, menyambutku. Namun kontolku yang tadi ngaceng sudah telanjur lemas kembali. Saya ingin berteriak tapi Adi dengan sigap menyumpal mulutku dengan celana dalam bekasnya! Aroma jantan yang sangat menyengat langsung menyerang lidah dan hidungku.
Bau kencing dan pejuh bercampur satu dan terasa asin di lidah. Untuk sesaat, saya dibuat pusing olehnya. Badanku terasa lemas saat aroma maskulinnya menusuk hidung dan ragaku. Saat itu segera dipergunakan Adi untuk mengikat tanganku ke belakang dengan borgol! Entah dia dapat darimana. Saya tentu saja kaget dan ingin meronta, tapi tak mampu. Bagaikan boneka kain, saya tergolek di ranjangnya tak berdaya dan pasrah.
Dengan sebilah pisau lipat, Adi mulai melucuti pakaianku. Saya kaget juga melihat pisau itu; takut akan dilukai oleh Adi. Maka dari itu, saya tak berani memberontak. Dengan bunyi BRET! Kaos dan celana pendekku tercabik-cabik. Malunya saya saat menyadari bahwa saya tidak bercelana dalam. Begitu celanaku habis dipotong-potong, kontolku yang lemas pun langsung terekspos. Puas melihatku lemas karena aroma kejantanan dari celana dalamnya, Adi membebaskan mulutku, tapi tanganku masih terborgol ke belakang. Adi mulai beraksi.
Di atas ranjangnya, dia mulai menggerayangi tubuhku. Berbaring di atas tubuhku, Adi memeluk tubuhku. Mula-mula, Adi sibuk menciumiku. Lidahnya ingin memaksa masuk tapi saya berusaha menahannya. Alhasil, supir muda yang ganteng itu cuma berhasil membasahi bibirku dengan ludahnya saja. Tak puas, dia mencengkeram pipiku kuat-kuat. Secara refleks, saya mengaduh kesakitan dan terbukalah mulutku. Kesempatan itu segera dimanfaatkannya untuk memberiku ciuman french-kiss. Lidahnya langsung menyerbu masuk Mula-mula saya merasa mual sekali; jijik dengan air liur Adi yang bercampur denganku. Tapi Adi terus memaksa dan saya pun akhirnya menyerah. Kubiarkan lidahnya menyapu lidahku dan gusiku. Dorongan untuk menciuminya mulai timbul.
Kuberanikan diriku untuk menyambut lidahnya. Getaran nikmat mulai mengisi jiwaku. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan diinginkan oleh pria lain. Kuciumi dia dengan penuh nafsu dan Adi membalasnya dengan penuh nafsu juga. Selama bermenit-menit, kami tenggelam dalam kenikmatan berciuman. Saat Adi melepaskan bibirku, saya merasa kosong sekali. Hatiku berdebar kencang, masih takut akan kemungkinan bahwa Adi cuma ingin menjebakku saja. Entah kenapa, Adi malah membebaskan tanganku. Saya bisa saja melarikan diri tapi sebagian dari diriku memang menginginkan untuk diperkosa oleh Adi.
“Kontol yang indah,” gumam Adi, air liurnya hampir menetes keluar.
“Gue paling suka kontol Cina. Ah, belum disunat lagi.”
Dengan bernafsu, Adi langsung membungkukkan badannya dan menyikat kontolku. Secara refleks, saya ingin menendangnya, tapi melihat pisau itu saya jadi tak berani. Tanpa jijik, Adi mengambil kontolku dan memain-mainkannya agar kontolku cepat berdiri.
“Lihat aja, gue bakal bikin loe ngaceng. Kontol loe bakal jadi milik gue. Badan loe juga. Loe bakal jadi pemuas birahi gue kapan pun gue mau. Ngerti?”
Tak berdaya, saya hanya bisa mengerang dengan penuh keputus-asaan saat kurasakan bahwa kontolku mulai ngaceng. Saya kecewa sekali akan pengkhianatan kontolku; tak percaya bahwa saya bisa dirangsang oleh sesama pria. Tapi tangan Adi memang terasa nikmat dan hangat di kontolku. Dengan bernafsu, Adi memompa kontolku naik-turun.
“Aarrgghh..” erangku tanpa daya.
Kulup kontolku bergeser ke bawah dan menampilkan kepala kontolku yang sensitif. Ketika tangan Adi menyentuhnya, saya mengerang-ngerang kesakitan. Sakit sekali rasanya, seperti terkena amplas saja.
“Wah, anak majikan rupanya bisa terangsang ama gue,” ejek Adi, matanya menyorot tajam ke arahku.
Mengetahui rasa sakit yang kualami pada kontolku, Adi cukup berbaik hati dengan meludahi kepala kontolku. Ludahnya yang licin itu memberi kenikmatan tersendiri saat telapak tangannya yang kasar menyentuh-nyentuh kontolku.
“Enak kan? Loe pasti bakal ketagihan kontol gue nanti. Sekarang, gue emut dulu yach kontol loe. Pasti enak,” celoteh Adi tanpa mempedulikanku.
Tanpa keraguan sedikit pun, Adi membuka mulutnya lebar-lebar lalu berjongkok di tepi ranjang. Kontolku yang berdenyut-denyut di tangannya itu dimasukkannya ke dalam mulutnya. Saya hanya dapat menyaksikannya dengan rasa tak percaya.
“Aarrgghh..” erangku saat kehangatan yang basah membungkus kontolku.
“Oohh.. Uugghh..” Saya mengerang tak karuan, menahan nikmat yang teramat sangat. Baru kali ini, kontolku disedot oleh seorang pria. Dan rasanya memang beda banget.
“Aarrgghh..” erangku saat Adi mengemut kepala kontolku lebih keras.
Lidahnya yang panas dan basah menari-nari di atas kontolku. Hisapannya pun kuat sekali sampai-sampai saya merasa pejuhku bakal kesedot keluar. Saya berhenti melawan dan malah memegangi kepalanya agar dia bisa menyedot lebih kuat lagi.
“Aarrgghh.. Sedot lagi, Adi.. Yahh.. Oohh.. Enak banget.. Aarrgghh..”
Tiba-tiba, Adi berhenti menyedot dan berdiri menjauh. Buru-buru, dilepaskannya celana panjang hitamnya itu. Celana itu kemudian ditendang ke pojok ruangan. Saya agak ketakutan saat melihat benjolan besar di balik celana dalamnya. Noda basah menghiasi celana dalam itu; Adi memang sudah sangat terangsang. Tanpa malu, Adi melepas celana dalamnya. Kontolnya yang tegang langsung melompat keluar, berdenyut-denyut seperti makhluk hidup. Kepala kontolnya yang bersunat berkilauan di tertimpa cahaya matahari siang. Adi lalu naik ke ranjang dan menyodorkan kontolnya ke mulutku.
“Sepong kontol gue. Ayo, jangan malu-malu. Sedot aja yang kuat. Anggap aja kontolku ini permen lolipop yang enak, yang harus dijilat dna diemut.” Rasa takut merambat sekujur tubuhku. Namun dorongan homoseksualku terasa begitu kuat. Tanpa kusadari, tanganku bergerak maju dan menggenggam batang kejantanan Adi. Batang itu terasa hangat dan hidup. Pelan-pelan, kudekatkan wajahku ke kontol itu.
Aroma kontol yang menyengat langsung memenuhi lubang hidungku, dan masuk ke dalam otakku. Aroma itu begitu kuat dan saya pun tersihir. Saya harus mendapatkan kontol itu! Tanpa sadar, saya langsung memasukkan kontol itu ke dalam mulutku. Lidahku langsung disambut dengan rasa asin yang licin. Dan di luar dugaan, saya menyukainya! Tiba-tiba, tembok pertahananku runtuh. Saya tak peduli akan apapun, saya hanya ingin merasakan nikmatnya berhomoseks. Adi tersenyum mesum saat melihatku menanggalkan topengku.
Dia berkata, “Gue udah tau kalo loe pasti homo. Mata gue gak pernah salah. Loe hanya butuh sedikit paksaan untuk menunjukkan warna asli loe.. Aahh..” Omongannya terhenti saat saya menjilat-jilat lubang kontolnya.
“Oohh.. Yyeeaahh.. Jilat terus, homo.. Hhoosshh.. Buat gue ngecret.. Aahh.. Hisap yang kuat.. Mm.. Enak kan? Hhoohh.. Aarrgghh..”
Saya terus menjilat seperti seorang pria murahan. Tak mudah loh menjilat dalam keadaan terbaring. Walaupun saya belum pernah berhomoseks, tapi saya sering melihat film porno gay. Dari situ, saya tahu teknik menyedot kontol. Jujur kuakui, menonton lebih mudah daripada melakukan sebab kontol Adi terasa menyumpal mulutku. SLURP! SLURP! Lidahku menjalari dan membungkus kepala kontol itu. Precum pun dikeluarkan sebagai penghargaan atas apa yang kulakukan. Saat lidahku menyapu bagian bawah kepala kontol milik sang supir itu, badannya bergetar dan erangan nikmat pun terdengar.
Rupanya bagian itu adalah zona erotisnya. Tanpa ampun, kuserang bagian itu dengan lidahku. Erangan nikmat Adi terdengar makin keras, bergema di dalam kamar itu. Makin banyak precum yang keluar dari lubang kontolnya. Mm.. Semua kujilat habis. Semakin kuat saya menyedot kontol itu, semakin keras erangan nikmat yang keluar dari mulutnya. Saat sedang asyik menghisap, tiba-tiba Adi mengerang.
“Oohh.. Gw mo keluar.. Aarrhh.. Oohh..”
Secara refleks, saya ingin berhenti menyedot agar muncratan pejuh Adi tidak mengenai mulutku, namun Adi malah memegangi kepalaku kuat-kuat. Dengan kasar, kepalaku ditekan ke arah kontolnya sehingga kepala kontol Adi bersarang di kerongkonganku. Tak biasa, saya mulai terbatuk-batuk dan mual. Adi lalu mendorong mundur kepalaku, tapi kemudian menariknya kembali. Rupanya Adi sedang mengentot mulutku! Sebelum saya sempat menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, tiba-tiba muntahan pejuh panas membanjiri mulutku dan menuruni kerongkonganku.
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Seiring dengan tiap muncratan pejuh, Adi melenguh panjang.
“Aargghh!! Oohh!! Aahh!! Uuhh!! Aahh!!” Tubuhnya yang atletis itu terguncang-guncang, dikuasai orgasme.
Cerita ini dan tokohnya fiktif alias karangan saja. Silahkan kirim saran, ide, kritik ke penulis. Webpage: http://www.angelfire.com/falcon/brycejlover/profileindo.html
*****
Papaku baru saja menyewa seorang supir baru karena supir yang lama berhenti. Supir baru ini lebih muda, bernama Adi. Badannya masih tegap dan umurnya 28, empat tahun lebih tua dibanding saya. Adi dikenalkan oleh teman ayahku yang hendak pindah ke Singapur. Karena tak ingin Adi menganggur, maka ia merekomendasikan Adi pada ayahku. Rumah ayahku memang tidak besar, hanya kami berdua yang menempatinya. Adi menempati kamar supir lama. Dalam sekejab, kamar sempit itu disulapnya menjadi kamar yang sangat bernuansa maskulin. Bahkan aroma cologne murahannya tercium tajam di setiap sudut kamarnya.
Ayahku percaya sekali pada Adi meski masih pegawai baru. Namun, saya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang misterius sekali, seakan-akan dia menyembunyikan sesuatu. Untuk ukuran seorang supir, Adi memang melebihi standar. Wajahnya tampan dan terkesan tangguh. Kehidupan masa lalunya nampak sangat keras, tergambar jelas di wajahnya yang tampan itu. Kulitnya tidak terlalu gelap, menyelimuti tubuhnya yang tegap dan atletis. Sebagai seorang pria, saya diam-diam iri dengannya. Meskipun penampilan fisik Adi memang luar biasa, namun nasibnya tidak begitu bagus sebab dia terjebak di tangga karir sebagai seorang supir pribadi.
Tanpa ada yang tahu, saya sering mengintipnya mencuci mobil ayahku karena dia selalu melakukannya sambil bertelanjang dada. Ah, betapa saya ingin meremas dadanya itu. Tapi rasanya tak mungkin karena Adi terlihat sangat heteroseksual. Tak mungkin dia mau ngentotin saya. Sejak dulu, saya sudah sadar bahwa saya hanya tertarik pada pria, namun saya mencoba untuk menekan sifat homoseksual-ku. Jika ayahku tahu, dia pasti akan marah. Namun dengan kehadiran Adi, bebanku bertambah berat karena saya harus menekan nafsuku terhadapnya.
Pernah, di suatu malam, saya menyelinap kelaur rumah dan diam-diam bersembunyi di luar jendela kamar Adi. Dari balik jendela itu, kulihat Adi sedang berbaring di ranjang sambil bertelanjang bulat. Kontolnya ngaceng sekali seperti baja. Mulut Adi agak membuka, nampaknya dia sedang mendesah-desah akibat rangsangan yang dia berikan pada kontolnya sendiri. Tanpa ampun, kontolnya dikocok-kocok dengan kecepatan tinggi. Saya hanya bisa menelan ludah melihat dadanya yang sempurna dan juga kontolnya yang besar. Adi terlalu larut dalam lamunan joroknya sehingga dia tak menyadari keberadaanku.
Kudengar dia mengerang, “Oohh.. Hhoohh.. Oohh..”
Kontolnya berdenyut-denyut di tangannya. Sesekali, Adi meludahi kontolnya sebagai pelumas. Tidak tahan melihat adegan erotis itu, saya buru-buru mengeluarkan kontolku sendiri dan mulai sibuk mengocoknya. Napasku memburu-buru menyaksikan Adi membelai-belai dada bidangnya sendiri dengan penuh sensualitas. Ingin rasanya kupeluk tubuhnya yang atletis dan seksi itu.
“Aahh..” desahku saat kontolku mengeluarkan precum.
Sebutir cairan bening melepaskan dirinya dari lubang kontolku. Cairan itu langsung kuambil dengan jariku, lalu kujilat. Mm.. enak sekali. Udara malam yang dingin malah membuatku semakin terangsang. Setelah bermenit-menit mengocok, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Kulihat Adi mulai gelisah, tubuhnya bergetar dna mengencang. Seluruh ototnya berkontraksi seakan sednag menahan sesuatu. Wajah Adi yang ganteng sedikit menyeringai menahan nikmat yang teramat sangat. Dan lalu..
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Mataku hampir terbelalak saat kulihat pejuh putih kentalnya muncrat ke atas dan jatuh kembali mendarat di atas tubuhnya.
“Aarrgghh!! Hhoohh!! Oohh!! Uugghh!! Aahh!!” Adi terus-menerus mengerang dan mendesah.
Tubuhnya yang kekar atletis itu mengejang-ngejang seperti orang kesurupan. Kontol perkasa itu terus menembakkan pejuhnya selama beberapa kali sampai akhirnya berhenti sama sekali. Kulihat, tubuh Adi basah kuyup dengan pejuh bercampur keringat. Kolam pejuh sudah terbentuk di perutnya yang berkotak-kotak akibat ejakulasinya tadi. Tanpa rasa jijik, Adi meraup pejuhnya dengan tangannya dan kemudian mendekatkannya ke bibirnya.
Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan cairan kejantanannya menete ke dalam mulutnya. Adi menelan pejuhnya sendiri! Dan dia nampak sangat menyukainya. Saya tak sempat menyaksikan apa yang diperbuat Adi selanjutnya sebab orgasmeku sendiri hampir datang. Sambil menahan eranganku, saya membiarkan tubuhku dikejangkan oleh orgasmeku.
“Hhoohh!! Oohh!! Oohh!! Hhoohh!!” Pejuhku dimuntahkan ke atas rerumputan. Tubuhku tak berdaya, diguncnag orgasme dan saya harus berpegangan pada tembok jika saya tak mau terjatuh.
Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Hampir selama semenit, saya mendesah dan mengejang. Rasanya nikmat sekali. Kubayangkan betapa nikmatnya berejakulasi dalam pelukan Adi. Oh, saya berharap mimpiku dapat terwujud suatu saat. Kemudian, saya buru-buru kembali masuk ke dalam rumah, dan kembali memerankan peranku sebagai pria heteroseksual. Setiap pagi, Adi bangun dan mencuci mobil, lalu mengantarkan ayahku ke kantor. Adi kemudian pulang lagi sampai sore dan lalu menjemput ayahku. Begitulah kegiatannya sehari-hari. Namun terkadang, saya merasa seolah-olah Adi juga sering menatapku secara diam-diam. Misteri dalam diri Adi semakin besar, hingga suatu ketika, saya mengetahui apa yang disembunyikannya selama ini..
Suatu pagi, saya kembali mengintipnya dari balik jendelaku. Jendela kamarku kebetulan menghadap keluar sehingga kapan pun Adi sedang sibuk mencuci mobil, saya pasti berkesempatan untuk mengintip tubuhnya. Pagi itu, entah kenapa, Adi hanya mengenakan celana dalamnya yang terlihat usang. Dengan santai, dia mencuci mobil ayahku. Tentu saja air terciprat dan membasahi celana dalamnya itu. Dalam sekejab mata, celana itu basah kuyup. Berhubung celana itu agak tipis, pantatnya yang padat itu tercetak dengan jelas. Kontolku langsung ngaceng. Birahiku menyala-nyala. Tak kuat membendung nafsuku, saya buru-buru melepas celanaku dan mengeluarkan kontolku.
“Aahh..” desahku melihat adegan erotis itu.
Adi nampak sengaja meliuk-liukkan pinggulnya, seakan menggodaku. Tiba-tiba, Adi membalikan tubuhnya. Tentu saja saya kaget setengah mati. Untung saja jendelaku diselimuti tirai sehingga tubuhku agak tersamar. Dari balik tirai, kusaksikan cetakan kontolnya di balik celana dalam basah itu.
“Aahh, besar sekali,” gumamku, penuh nafsu.
Kontolku sendiri mulai bocor dengan precum. Kuperas-peras batang kontolku dan semakin banyak precum yang keluar. Sambil ngocok, saya memata-matai gerak-gerik Adi. Sesekali kulihat Adi sengaja mengelus-ngelus kontolnya dari balik celananya.
“Oohh.. Hhoohh.. Hhoosshh..” Napasku makin berat dan tak beraturan.
Kubayangkan bagaimana nikmatnya bercinta dengan supir itu, merasakan tubuhnya, memegang kontolnya, dan dingentot. Semua bayangan-bayangan erotis itu, ditambah dengan live-show yang sedang digelar Adi di luar, memacu orgasme. Kontolku semakin ngaceng dan basah, namun saya tetap memerasnya sampai..
“Oohh.. Oohh.. Aarrgghh!!”
Kontolku berdenyut keras tiap kali pejuh dimuntahkan keluar. Tubuhku bergetar dan mengejang, seiring dengan gelombang orgasme yang kurasakan.
Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tirai tempat persembunyianku juga ikut bergerak, terkena tubuhku. Tanpa kusadari, tirai itu tersibak, dan Adi tak snegaja melihatnya. Dia menyaksikan bagaimana saya dikuasai orgasme.
“Aarggh!! Oohh!! HhoH!! Aahh!!” erangku, terus saja memerah kontolku.
Pejuhku bermuncratan ke atas lantai, menciptakan genangan pejuh.
“Oohh.. Hhohh.. Hhsshh..”
Dan semuanya kembali seperti semula. Kontolku mengempis, napasku kembali teratur, dan saya tersadar kembali. Saat kuintip Adi, ternyata supir itu sudah tidak ada dan mobil ayahku sudah bersih mengkilap. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Adi sedang merencanakan aksi pemerkosaan terhadapku! Siang itu setelah mengantarkan ayahku, Adi menghampiriku di dapur. Saya baru saja selesai makan siang dan hendak mencuci piring saat Adi tiba-tiba berdiri di belakangku.
Dengan sensual, ditempelkannya tubuhnya ke punggungku. Sebuah benjolan mendorong-dorong pantatku. Tentu saja saya jadi kaget tapi senang. Namun di lain pihak, saya takut kalau itu hanyalah jebakan saja. Bagaimana jika dia hanya ingin mengetesku saja? Maka kuputuskan untuk tetap memainkan peran sebagai seorang pria ‘straight’. Berpura-pura tersinggung, kudorong tubuhnya dengan punggungku.
“Kenapa sih, Bang Adi? Salah minum obat yach?”
Saat kubalikkan badanku, saya baru sadar bahwa Adi sudah bertelanjang dada. Pantas saja, saat dia menempelkan badannya ke punggungku, saya dapat merasakan dengan jelas setiap kontur dadanya yang berotot. Badan Adi yang atletis mengingatkanku pada badan Jason Brooks, cowok ganteng yang berperan sebagai Sean Monroe di Baywatch Hawaii. Puting Adi yang kecoklatan nampak menegang dan melenting, menjaga otot pektoralnya yang aduhai.
Di bawah dada bidang itu, nampak otot perut six-pack yang kotak-kotak seperti papan cuci. Rambut-rambut halus tumbuh menyebar di dada Adi, lalu turun ke belahan six-pack-nya, dan kemudian menghilang di balik celana panjang hitamnya. Untuk sejenak, saya terhanyut dalam lamunanku, membayangkan isi di balik celana itu. Keringat dingin mulai mengucur saat saya menyadari apa yang sedang Adi lakukan.
Dia sedang menggodaku! Dan celakanya, tak ada seorang pun di rumah selain Adi dan saya. ‘Astaga, jika Adi benar homoseksual, apakah dia akan memperkosaku,’ tanyaku panik pada diriku sendiri. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mau diperkosa, bahkan pria gay sekalipun, karena pemerkosaan berkonotasi negatif dan kasar. Namun entah kenapa, tiba-tiba saya terangsang sekali. Saya membayangkan diriku terbaring bugil tak berdaya di lantai sementara Adi mengentotinku dengan kasar. Kontolku mulai tegang dan tercetak di balik celanaku. Saya sama sekali tak menyadarinya, namun Adi sadar dan telah melihatnya!
“Tenang saja, gue gak bakal nyakitin loe. Gue cuma mau bersenang-senang saja, kok,” kilahnya.

Makin banyak pejuh yang tertelan olehku. Rasanya agak pahit dan asin, terasa kental-kental licin di lidah. Mula-mula memang terasa mual, tapi belakangan saya malah menelannya dengan penuh kenikmatan. Bunyi kecipak-kecipok terdengar saat Adi masih saja mengentotin mulutku yang banjir pejuh. Alhasil, sebagian pejuh yang telah bercampur air liurku mengalir turun dari kedua sisi bibirku. Baru kemudian, Adi melepaskanku. Kelelahan, si supir bejat itu membaringkan tubuhnya di sampingku.
Tanpa meminta persetujuanku, tubuhku dipeluk seakan saya adalah kekasih homoseksualnya. Terbaring bugil di dalam pelukan Adi, bersimbah keringat dan percikan pejuh, saya tak merasa menyesal telah melepaskan sisi homoseksualitasku. Saya ingin mencoba hal yang lain. Saya mau dianal alias dingentot!
Tanpa malu, saya berbisik di telinganya, “Ngentotin saya donk.” Adi kaget mendengar permintaanku. Kedua matanya terbuka lebar, tak percaya.
“Apa kata loe? Pengen dingentot?” Supir itu lalu tertawa, namun tawanya terdengat bejat.
“Tentu aja, gue gak bakal lepasin loe sebelum gue mendapatkan lobang loe.”
Dengan pandangan mesum, Adi duduk sambil mencoli kontolnya yang belepotan pejuh. Dalam sekejab, kontol itu kembali bangkit dan keras! Astaga, Adi sungguh seorang pejantan!
“Ayo, bersiaplah. Kontol ini bakal menghajar pantat loe.”
Supir itu turun dari ranjang dan berdiri di dekatku. Tubuhku yang masih terbaring ditarik mendekat. Kedua kakiku diangkat tinggi kemudian ditaruh di atas pundaknya yang lebar. Sementara bantal yang sering dipakainya untuk tidur disisipkan di bawah pinggulku. Dalam proses itu, kontol Adi yang ngaceng selalu bersentuhan dnegan anusku yang berkedut-kedut. Birahiku makin menguat, tak sabar ingin segera dingentot.
“Oke, deh. Semua siap. Bentar lagi, loe bakal jadi milik gue. Gue tau loe doyan kontol. Loe pasti suka kontol gue.”
Dan dengan itu, Adi mulai memaksakan kontolnya masuk. Saya mulai merasakan sakit pada bibir anusku. Anusku yang masih perjaka dipaksa membuka oleh kontol yang besar itu. Kontol itu masih basah dengan pejuh, namun jumlahnya masih kurang banyak untuk melumasi anusku. Tentu saja hal itu meyulitkan penetrasi dan membuatku agak kesakitan. Anusku terbuka makin lebar dan ujung kepala kontol Adi sudah masuk sedikit. Wajah Adi meringis karena nikmat.
“Aahh.. Sempit banget.. Aahh.. Loe pasti masih virgin.. Uuhh.. Enak banget.. Gak nyangka bisa dapatin virgin.. Aahh.. Anak bos lagi.. Uuhh..”
Adi mungkin sangat menikmati proses penetrasi yang sulit itu, tapi saya sebaliknya kesakitan.
“Aahh.. Sakit, Bang Adi.. Aahh.. Bang, stop, Bang.. Aahh.. Sakit banget.. Oohh..” Saya merintih dengan mata berair.
Bibir anusku terasa panas terbakar akibat pergesekkan yang sulit itu. Saya ingin sekali melepaskan diri dari kontolnya, namun Adi memegangi tubuhku kuat sekali. Saya tak berdaya melawannya. Lagipula, sebagian dari diriku memang ingin sekali disodomi olehnya. Tapi Adi tak mempedulikanku.
Dia cuma berkata,” Tahan aja.. Oohh.. Jangan cengeng.. Aahh.. Loe kan cowok.. Terima donk kayak cowok sejati.. Uuggh.. Lagian, bentar lagi juga enak kok.. Oohh..”
Rasanya seperti bertahun-tahun sampai akhirnya.. PLOP! Masuk sudah kepala kontol itu. Saya menghela napasku, lega sekali. Meski anusku masih terbakar, namun merasa jauh lebih baik.
“Gimana? Enak kan?” tanya Adi, tersenyum mesum.
Supir itu mendekatkan tubuhnya sehingga bibirnya berhadapan dengan bibirku. Lidahnya menjulur keluar, ingin bersentuhan dengan bibirku. Saya tak keberatan dan membuka mulutku untuk menyambutnya. Lidah kami saling terjulur dan bersentuhan. Tiba-tiba Adi menempelkan bibirnya ke bibirku. Tapi dengan demikian, kontolnya semakin terdorong masuk. Saya mengerang tertahan sambil melayani ciumannya.
Puas berciuman, Adi bangkit dan tersenyum melihatku telentang pasrah di depannya. Kontolnya yang hangat terasa berdenyut di dalam liang pembuanganku. Senyuman mesum mulai menghiasi wajahnya yang tampan itu. Kemudian kurasakan kontolnya mulai bergerak keluar masuk. Awalnya rasa sakit masih menyiksaku, panas dan nyeri. Nmaun saya mencoba untuk menahannya. Adi tahu benar apa yang sedang saya rasakan tapi dia tidak berkata apa-apa. Dia terus menyodomiku sambil berkomentar yang jorok-jorok.
“Aahh.. Ngentot.. Uuhh.. Doyan kontol kan? Aahh.. Rasakan kontol gue.. Uuhh.. Fuck you.. Oohh.. Pantat loe enak buat ngentot.. Oohh.. Uuhh..”
Semakin lama menyodomi, semakin dalam kontol Adi menghajar liang pembuanganku. Saat prostatku terkena hajaran kontol yang ngaceng itu, rasa nikmat merambati tubuhku. Mulanya terasa agak aneh karena tiap kali prostatku terkena, kontolku makin ngaceng dan mengeluarkan precum. Selain itu, detak jantungku makin cepat dan napasku terasa terhenti. Inikah kenikmatan disodomi seperti yang sering kubaca di Internet?
“Aahh.. Aahh.. Oohh..” erangku, terangsang sekali.
Kulihat Adi sendiri sudah mulai berkeringatan. Wajahnya dihiasi dengan ekspresi kenikmatan yang bercampur dengan kemesuman. Setetes keringat bergelantungan di dagunya, yang kemudian jatuh ke atas leherku.
“Oohh.. Hhoohh.. Ngentot.. Aahh.. Lebih dalam, Bang.. Oohh.. Lebih kuat.. Aahh.. Kontol Bang Adi.. Uugghh.. Enak.. Hhoosshh..” saya meracau, memacu nafsunya.
“Aahh.. Ngentot loe!! Aahh.. Dasar homo.. Oohh.. Fuck you! Oohh.. Rasakan kontol gue.. Hhohh..”
Ritme ngentotnya pun semakin lama, semakin cepat. Deru napasnya terdengar seperti napas banteng yang mengamuk. Sodokan kontolnya terasa makin kuat sampai-sampai saya merasa prostatku bisa hancur. Tubuhku ikut terguncang-guncang. Suasana bertambah erotis dengan derit ranjang Adi dan erangan-erangan kami berdua. Kalau saja adegan ngentot kami itu diabadikan dalam foto maupun film, pasti akan laku terjual!
“Aahh.. Gue suka ngentot loe.. Oohh.. Nikmati kontol gue.. Aahh.. Rasakan kejantanan gue.. Oohh.. Gue bakal hamilin loe.. Uugghh.. Ama pejuh gue.. Oohh.. Loe milik gue sekarang.. Oohh..”
Sekali lagi, Adi membungkukkan tubuhnya yang bersimbah keringat, ingin menciumi bibirku. Saya terima saja, dan malah mencoba untuk mencium balik dengan nafsu yang lebih besar. Kontolku yang ngaceng dan basah terperangkap di antara badan kami. Irama ngentot Adi dan pergesekkan antara tubuhnya dan kontolku secara tak langsung telah membantu saya tiba di tepi jurang orgasm. Precum-ku sudah membanjiri pusarku. Genangannya bahkan sudah meleleh turun ke ranjang.
“Oohh.. Adi.. Oohh.. Saya suka kamu..” desahku saat kami selesai berciuman.
“Uugghh.. Ngentotin pantatku.. Oohh.. Ngentotin saya.. Aahh.. Saya mau jadi.. Uugghh.. Milikmu.. Aahh..”
Meski meracau, saya sadar apa yang saya ucapkan. Adi memang seksi sekali dan saya sadar bahwa saya tertarik apdanya, dan mau menajdi miliknya. Saya tak berharap dia mau mencintaiku. Asalkan dia sudi mengentotku tiap hari, saya sudah cukup senang. Di luar dugaan, Adi menjawab sambil terengah-engah.
“Gue.. Oohh.. Juga sayang loe.. Oohh.. Gue mau bercinta ama loe.. Aahh.. Ngentot! Aahh.. Enak banget, sayang.. Oohh.. Sayang, gue udah mau keluar.. Oohh.. Terima pejuh gue.. Aahh.. Gue banjirin perut loe.. Oohh.. Ama pejuh gue.. Aahh.. Aarrghh!! Ooh!! Aarggh!!” Sambil memeluk tubuhku kuat-kuat, Adi membiarkan tubuhnya dikuasai orgasme. Melolong seperti serigala yang kesakitan, Adi pun ngecret.
Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Kontol yang perkasa itu berdenyut dan menembakkan cairan kelaki-lakiannya. Pejuh Adi terlontar dalam sekali, membanjiri ususku. Rasanya hangat dan nikmat. Saya ikut mengerang sambil meremas-remas dadanya yang atletis itu.
“Aarggh!! Uuhh!! Oohh!! Hhoohh!! Hhoosshh!! Aahh!!”
Kulihat tubuhnya berguncang, bergetar, mengejang. Otot-otot perutnya berkontraksi dengan hebat, nampak membesar dan hidup. Dada bidangnya naik-turun, memompa udara sebanyak-banyaknya. Bahkan jakunnya pun naik-turun.
“Aarrgghh!! Aahh.. Uugghh..”
Di saat orgasme Adi mulai mereda, giliranku untuk berorgasme. Kontolku yang masih terjepit di bawah badan Adi menegang dan segera menyemprotkan isinya. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Volume pejuh yang dimuntahkan banyak sekali. Saya hanya bisa mengerang dan mendesah.
“Ooh.. Ooh!! Uuggh!! Oohh!! Aahh!! Uuhh!!”
Pejuhku yang kental dan hangat mengalir menuruni badanku yang telentang dan lalu membasahi kasur. Adi masih saja terus menyodomiku sehingga pejuhku tergesek-gesek seperti lotion.
“Aahh.. Oohh..” desahku saat prostatku masih saja terkena hajaran kontol Adi yang masih setengah ngaceng.
“Uugghh.. Oohh..” Kami pun saling berpelukan sambil mengistirahatkan badan kami.
“Aahh.. Enak banget, sayang,” bisik Adi, menarik kontolnya keluar.
Saya mendesah saat kepala kontol itu meninggalkan isi perutku. Rasanya kosong dan hampa. Supir tampan itu kembali mendaratkan beberapa ciuman di wajahku.
“Besok, kita main lagi yach.”
“Kenapa harus besok?” tanyaku, tersenyum nakal.
“Nanti juga bisa. Saya suka kontolmu. Top banget. Ngentotin saya lagi, yach”, pintaku.
Tanganku menjelajahi punggungnya yang berotot dan lebar itu. Aroma keringat Adi yang bercampur bekas semprotan parfum tadi pagi kembali merangsangku. Adi sampai kaget saat merasakan kontolku yang sudah lemas pelan-pelan mulai bangun lagi. Dan dia memang mengentotinku sekali lagi. Tak ada yang tahu akan hubungan rahasia kami, bahkan ayahku tak tahu. Adi memang pengentot dan pecinta yang terbaik!
Tamat
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts